Pengalaman Terkena Sakit Lumpuh Layu GBS (1): Awalnya Dokter Hanya Menyangka Kecapekan
EnerLife singkatan dari "Energize Your Life" atau "Energy of Our Life". Enerlife berisi tulisan dan video motivasi yang bermaksud mencerahkan pikiran dan hati. Serta motivasi kesuksesan hidup. Harapannya hidup kita menjadi mulia dan bermanfaat bagi semesta. Artikelnya bisa dibaca di blog ini: http://enerlifeid.blogspot.com dan videonya dapat dilihat di sini: https://s.id/enerlifeid.
Oleh: Mochamad Yusuf*
Luar biasa warung Pecel langganan saya ini. Tiba jam 6, pukul 6.15 sudah habis. Berarti dalam waktu sejam lebih sudah habis.
Banyak yang datang kemudian jadi kecewa. "Habis,.. habis..," banyak kata keluar dari sang penjual.
Bagaimana tidak cepat habis? Banyak yang beli untuk dibawa pulang. Sekali beli 10, 15, 20 bungkus. Mungkin ini karena lebaran. Tapi seingat saya lebaran-lebaran dulu gak seramai ini.
Bertahun-tahun, puluhan tahun, kalau ke Pare berusaha sarapan Pecel di sini. Dulu dari Surabaya berangkat setelah Subuh agar bisa sarapan di sini. Tapi terakhir-terakhir karena berangkat siang, jadinya warungnya sudah wassalam. Hehehe.
Sebenarnya warung Pecel yang lain juga sama enaknya. Tapi ada yang khas di sini, selain pakai pincuk. Yakni sayurnya. Paka daun Pepaya dan Pepaya muda diiris kecil-kecil kayak Lodeh Manisa.
Dan tentu saja bumbu Pecelnya. Tadi ada yang pesan bumbu Pecel 10 kg. Sepertinya buat oleh-oleh, karena dialek bahasanya orang Jakarta.
Khas terakhirnya adalah Peyeknya. Multi rasa. Ada peyek Kacang, Kedelai, Teri, Udang kecil. Tapi gak bisa request. Campur. Kalau mau request Peyeknya bisa di warung lain. Gak jauh dari situ.
Tadi saat ke warung langganan, sepanjang jalan banyak yang jual Nasi Pecel. Sebagian besar lesehan. Ini biasanya jadi alternatif kalau saya kehabisan di Warung Langganan itu.
Pecel Tumpang khas Pare ini yang bikin kangen untuk mudik eh pulang kampung.. Hehehe. [Kampung Inggris, 23/3/2026 Dhuha]
Pecel Tumpang Pare memang tidak duanya.. Hehehe
BalasHapus