Postingan

Menampilkan postingan dengan label mochamad yusuf

FEATURES

Resolusi Keilmuan Saya 2012

Gambar
Tahun 2012 sudah berjalan 3 bulan. Bahkan sudah memasuki pertengahan bulan April. Saatnya untuk mereview resolusi yang sudah ditetapkan di awal tahun ini. Oleh: Mochamad Yusuf * Untuk itu, mungkin ada baiknya saya tulis lagi di sini apa yang menjadi resolusi saya di tahun 2012. Namun yang saya ungkap di sini khusus hanya resolusi yang terkait dengan keilmuan. Yakni terkait dengan masalah belajar dan mengajar. Secara publik, saya pernah mempublikasikan resolusi saya ini di Facebook pada 5 Februari 2012. Jadi dengan dipublikasikan ke umum, saya menjadi bersemangat untuk mewujudkannya. Karena bisa diawasi secara umum. Syukur-syukur ada yang mengingatkan dan membantu pencapaian resolusi itu. Hehehe. Resolusi Keilmuan 2012: - Menulis 2 buku, masing2 fiksi & non fiksi - Menulis 4 artikel min 1 A4 /mg - Membaca 2 buku/bl - Mengajar 1 MK/smster Sekarang bagaimana perwujudannya di kuartal pertama ini? - Menulis: belum terbentuk, tapi naskah sudah dikebut. Semoga bisa terwujud jadi buku t...

Ganti Judul Dari Rejeki Menjadi Rezeki

Gambar
Namun sepertinya memang itu kesalahan jamak yang sering dilakukan. Jadi sepertinya bukan saya saja yang melakukan kesalahan konyol seperti ini. Hehehe (alasan saja). Oleh: Mochamad Yusuf * Sudah hampir setengah tahun setengah, saya menulis artikel tentang rezeki. Dulu saya mulai menulis ini gara-gara melihat keanehan warung nasi pecel dan nasi bebek. Kedua warung ini aslinya ramai minta ampun. Namun setelah pindah ke lain tempat menjadi sepi sunyi senyap. Padahal pindahnya masih di jalan yang sama dan tak jauh. Paling sekitar 50 meteran. Kebingungan melihat fenomena ini akhirnya saya tulis menjadi artikel pertama itu. Sejak itu saya mengumpulkan semua pengalaman saya tentang rezeki. Rencananya saya kumpulkan sampai 99 artikel, lalu saya bukukan. Artikel tentang rahasia rejeki itu, bisa Anda ikuti di sini: http://enerlife.web.id/category/rejeki/ . Namun setelah hampir menulis 84 artikel, saya baru sadar bahwa saya melakukan kesalahan eja yang mendasar. Karena selama itu saya menulis de...

Master of Facebook (7): Teman Kuliah Warga Negara Asing

Gambar
Rasanya bangga mendengar perjuangannya untuk kuliah di Indonesia. Dia percaya kualitas pendidikan kita lebih bagus. Tapi kini saya prihatin, karena sekarang banyak pelajar kita kuliah di Malaysia. Oleh: Mochamad Yusuf * Dua kali kuliah, 2 kali pula saya mendapat teman sekelas dari luar negeri. Mungkin ada yang mencibir, “Saya sih biasa. Banyak teman saya sekelas juga dari luar negeri. Bahkan dari berbagai negara.” Ya, ini kemungkinan besar dia kuliah juga di luar negeri. Hehehe. Dulu saat kuliah S1, aneh juga rasanya ada seorang pelajar negara lain mau belajar di Indonesia. Dan bukannya kuliah di Jakarta, tapi malah ambil kuliah di Surabaya. Sebuah kota bukan ibukota negara. Kini, hal itu makin terasa aneh lagi, karena justru banyak pelajar dari negara kita yang kuliah di negara jiran seperti Singapura bahkan Malaysia! Entah, apakah mereka seperti pelajar Malaysia tersebut masih mau belajar di Indonesia lagi saat ini atau tidak. Lho, kenapa dengan Malaysia? Betul, teman sekelas waktu ...

Master of Facebook (6): Kuliah Dengan Otak Penuh Beban

Gambar
Jadi di malam pelepasan wisuda itu, saat teman saya curhat dengan berbagai hambatan saat kuliah dalam sambutannya, saya tertawa-tawa sendiri. Tertawa karena mentertawakan diri sendiri. Hehehe. Oleh: Mochamad Yusuf * Dalam sambutannya, seorang teman sekelas yang didapuk menjadi wakil wisudawan malam itu, mengeluh betapa susahnya kuliah saat sudah tua seperti sekarang ini. Secara guyon, dia mengatakan saat mau berangkat kuliah diberati dengan tangisan anak, sehingga tidak jadi kuliah. Meski saya kurang percaya dengan ceritanya, maklum dia adalah komandan sebuah polres di Surabaya sehingga saya yakin keluarganya biasa ditinggal dinas di luar rumah, saya menyetujui pendapatnya. Yakni kuliah setelah berkeluarga terasa lebih berat. Keberatan pertama adalah kuliah bukanlah prioritas pertama dalam menyedot sumber daya yang kita miliki. Yang utama adalah pekerjaan. Sehingga segala pikiran, tenaga dan waktu digunakan sepenuhnya untuk pekerjaan. Dan pekerjaan tidak banyak terkait dengan belajar,...

Master of Facebook (5): Mengapa Tak Kuliah di UNAIR?

Gambar
Ketika ditanya waktu kuliah oleh atasan, saya jawab apa adanya. Lama dia berpikir. Sepertinya mencari kalimat yang pas. Akhirnya dimulailah perbincangan panjang. Saya tahu maksud pembicaraan ini. Oleh: Mochamad Yusuf * Ketika keputusan kuliah S2 sudah bulat, maka saya tak perlu pikir panjang lagi untuk memilih perguruan tingginya: UNAIR! Jelas alasannya. Nama besar, PTN favorit dan alumni. Alumninya telah tersebar di seluruh Indonesia bahkan dunia dan telah berkiprah di berbagai institusi pemerintah, BUMN dan swasta ternama. Selain itu memang pilihannya cuma sedikit, karena saya hanya berniat mengambil bidang komunikasi. Ini saya maksudkan supaya S2 saya linier dengan S1 saya yang komunikasi. Di Surabaya hanya ada 2 perguruan tinggi (PT) yang buka S2 Komunikasi: UNAIR dan UNITOMO. Mudah bagi saya untuk cari informasi tentang pasca Komunikasi UNAIR ini. Karena Komunikasi UNAIR adalah almamater saya. Saya kontak dosen-dosen yang telah mengajari saya di strata 1 itu. Semuanya welcome. Me...