Postingan

Menampilkan postingan dengan label SDM (SUMBER DAYA MANUSIA)

FEATURES

Ada Sesuatu Yang Akan Mengkhawatirkan Bagi Bangsa Ini

Gambar
Berita ini luput dari media massa, meski di sebuah koran daerah Surabaya diangkat menjadi headline. Sebelumnya saya tidak pernah mengetahui hal ini. Oleh: Mochamad Yusuf * Dan saya belum juga pernah membaca masalah ini dibahas solusinya. Dan setelah itu juga tidak ada kelanjutan beritanya. Sesuatu yang memprihatinkan. Sesuatu yang menyedihkan. Sekaligus mengkhawatirkan. Entah ini ' Blessing in Disguise '. Beberapa waktu lalu, pemerintah Arab Saudi mempulangkan para TKI/TKW yang overstay. Yakni yang masa izinnya habis. Bersamaan dengan itu dikirim pula ribuan balita (sekitar 5.000) orang ke Indonesia. Mereka tidak diketahui ayah ibunya. Yatim piatu. Yang jelas mereka anaknya para TKI/TKW. Mereka bisa karena 3 hal. Pertama, ibunya TKW yang bersuami TK asing seperti Banglasdesh dan memilki anak yang tidak sah. Setelah lahir secara hukum ikut kewarganegaraan Indonesia. Setelah lahir, anaknya diberikan ke pemerintah Arab Saudi karena berbagai hal. Kedua, sama dengan di atas tapi, a...

Sebab Stres Dan Obatnya

Gambar
Jumat kemarin saya shalat Jumat di masjid Al Akbar Surabaya. Sudah lama tidak shalat Jumat di sini. Tapi sebenarnya lebih tepatnya saya jarang shalat Jumat di masjid agung ini. Mungkin bisa dihitung dengan jari. Kebanyakan saya shalat Jumat ya dekat kantor atau rumah. Hehehe. Oleh: Mochamad Yusuf * Tapi ada yang menarik saat shalat Jumat di sana. Yakni setelah shalat Jumat selesai, dilanjutkan dengan acara tanya jawab. Pembicaranya ya khatib Jumat tersebut yakni seorang guru besar IAIN Sunan Ampel Surabaya (saya lupa namanya). Tidak ada prolog, jamaah langsung bisa mengajukan pertanyaan. Rasanya pertanyaannya tidak dibatasi dengan tema khutbah Jumat yang barusan disampaikan (tentang haji). Pertanyaan pertama adalah bagaimana menghadapi stress? Saya sebenarnya sudah dalam perjalanan keluar masjid karena harus cepat kembali ke kantor, namun mendengar pertanyaan ini saya sampai kembali ke masjid. Kata sang khatib, stres itu muncul karena ada kesenjangan/perbedaan antara keinginan dengan r...

Pekerjaan Adalah Hobi Yang Berbonus

Gambar
(ref: sxc.hu) Pagi ini saya dapat SMS dari seorang teman kantor lama. Ya, dia setelah melahirkan, dia resigned dari kantor. Ini gara-gara sering terlambat ke kantor karena harus mengurusi anaknya. Setelah itu dia di rumah, mengurus suami dan anaknya. Istilah sekarang jadi full ibu rumah tangga. Oleh: Mochamad Yusuf* SMSnya itu mengabarkan dia sekarang bekerja sebagai penyiar di sebuah radio. Bahkan saat SMS masuk, dia lagi siaran. Langsung saja saya sambar earset dan menancapkan ke ponsel untuk mendengarkan radio. Ternyata program yang diasuh adalah lagu-lagu lawas alias oldies. SMS-an dengannya jalan terus meski siaran, dan salah satu kutipan yang saya suka adalah dia senang bekerja di sini karena sesuai passion dan hobinya. Dia memang sebelum kerja di kantor lama, adalah penyiar. Sekarang kembali ke profesi lama. Saya jadi ingatan perkataan seseorang yang diwawancarai oleh radio Suara Surabaya karena prestasinya. Dia bilang, “Saya suka pekerjaan ini karena sesuai passion dan hobbi. ...

Teknologi Membunuh Profesi atau Mencipta Profesi?*

Gambar
Pagi ini saya di Jakarta banyak melihat pengendara motor dengan rompi warna hijau. Di Surabaya sebenarnya saya juga melihat hal yang sama. Tapi di Jakarta begitu banyak. Mereka, berompi hijau ini, adalah tukang ojek. Tapi mereka unik, bukan tukang ojek biasanya. Mereka memang mandiri, bukan pegawai. Tapi mereka disatukan oleh sebuah aplikasi namanya Gojek. Aplikasi ini bagi konsumen ojek, begitu menguntungkan. Kata teman yang pernah menggunakan, harganya lebih murah. Bagi tukang ojek juga menguntungkan, karena dengan mudah dia mendapat banyak penumpang. Dan semua orang bisa jadi tukang ojek Gojek ini. Dengan aplikasi ini seseorang bisa memesan ojek lewat ponselnya. Akibatnya penumpang bagi tukang ojek tradisional menjadi menurun. Mereka terancam dengan tukang ojek modern ini. Sempat di Jakarta sampai ada kejadian penghadangan dan ancaman ke tukang Gojek dari tukang ojek tradisional. Kalau melihat hal ini, teknologi membunuh pasar tukang ojek tradisional. Di lain pihak, menumbuhkan tuka...

Kenikmatan Terbesar di Dunia

Gambar
(ref: sxc.hu) Apa yang menjadi kenikmatan terbesar di dunia? Entahlah... bagi orang lain. Kalau saya, salah satunya adalah bisa mengatur waktu sendiri. Bukan waktu yang mengatur kita. Kita benar-benar bisa menikmati hidup dengan tenang. Tidak disibukkan dengan dunia, bahkan sampai dilupakan karena dunia. Misal: kenikmatan bisa bangun sebelum adzan Subuh berkumandang, terus ke masjid untuk shalat jamaah. Lalu dilanjutkan dengan mengaji sampai matahari terbit lalu shalat 2 rakaat. Berikutnya bisa berolah raga. Namun kebanyakan justru setelah shalat Subuh jamaah (masih bagus masih jamaah), tidak sampai dzikir lama sudah keluar masjid. Terburu-buru bersiap ke ke rumah untuk mempersiapkan pergi ke kantor. Berangkat ke kantor pagi-pagi. Ini bukan kenikmatan dunia. Atau kenikmatan lain bisa saya lihat saat berangkat ke kantor melihat sekeliling masjid Al Akbar, banyak orang berolah raga. Lha, kita sibuk bekerja mereka masih berolah raga. Atau saya pernah kembali ke rumah pukul 11 siang, lewa...

Beratnya Perjuangan Masuk Gontor Putra

Gambar
Mulai Selasa 13 April Pondok Modern Darussalam Gontor membuka pendaftaran sebagai santrinya. Berarti dimulailah proses seleksi yang cukup lama dibandingkan sistem pendidikan umum. Karena sekarang ada pandemi maka ada perbedaan, namun pada dasarnya hampir sama. Maka disinilah kita melihat perjuangan para pemuda dan pemudi seluruh Indonesia masuk Pondok Modern Gontor Putra. Mereka kebanyakan siswa lulusan SD. Meski ada juga yang lulusan SMP. Dan ada juga yang lulusan di atas level itu. Mari kita lihat mereka, para pemuda, berjuang masuk Gontor. Sebagian dari mereka sudah mempersiapkan beberapa waktu sebelum pendaftaran. Siang malam belajar di kota kampung halaman. Inilah permulaan perjuangan mereka menuntut ilmu. Dan bila mereka lolos masuk Pondok Gontor perjuangan ini berlanjut 4-7 tahun lagi. Selamat berjuang! Semoga sukses dan diterima Allah. https://youtu.be/KS25PrAYfOk

Lebih Baik Mondok di Pondok Pesantren Daripada Sekolah Umum?

Gambar
Sebulan lagi Insya Allah kami bertemu kembali dengan putri kami yang sedang belajar di Gontor Putri 1. Bila pulang nanti berarti kami baru berjumpa selama 1 tahun ajaran penuh. Oleh: Mochamad Yusuf* Memang pandemi ini mengubah kebiasaan kami. Dulu saat normal setiap bulan kami berkunjung ke kampusnya di Mantingan, Ngawi. Selain membayar SPP, mengirim perbekalan (makanan kecil) juga melepas rindu. Namun di masa pandemi ini, kami dilarang mengunjungi ananda. Kami maklumi demi kebaikan bersama. Kami tetap bersyukur karena dia dan teman-temannya tetap sekolah dan berkegiatan layaknya saat normal. Wajar karena mereka sudah me-lockdown sendiri. Maka betapa besar kerinduan kami pada ananda. Sehingga terakhir-terakhir kami punya kebiasaan baru. Yakni merekam pembicaraan saat ananda telpon kami. Ini tidak pernah kami lakukan saat normal dulu. Sehingga saat kami terbit rindu, kami dengarkan rekaman itu. Kami nikmati suaranya yang penuh semangat (berarti dia menikmati sekolah di sana). Kami senan...

Pujian Yang Menjadi Semangat

Gambar
Tiga tahun lalu ada kejadian yang menjadikan saya terkesan pada pujian. Saya melakukan percobaan memuji dan tidak. Saya lakukan pada peristiwa dan lokasi yang sama. Hasilnya ? Luar biasa berbeda. Oleh: Mochamad Yusuf * Saat itu ide muncul gara-gara seorang satpam memberikan secarik kertas saat mau menabung di sebuah bank swasta. Kertas itu adalah form feedback penilaian bagi teller. Biasanya saya tak hiraukan. Tak diisi, meski form itu harus diserahkan bersamaan dengan form penabungan. Awalnya saya heran. Kenapa form feedback diberikan di awal. Tidak setelah berhubungan dengan teller. Bukankah kalau memberikan feedback seharusnya baru dilakukan kalau sudah melakukannya. Bagaimana kita bisa memberikan feedback kalau kita tak tahu kejadiannya. Karena itu biasanya saya cuek dengan feedback ini. Namun terlintas sebuah ide untuk melakukan percobaan. Saya akan memberikan penilaian yang ekstrim. Saya perhatikan ada 5 pernyataan dalam form itu. Tiap pernyataan disampingnya ada 5 kolom penilaia...

Gampang Berdusta

Gambar
Tadi pagi mendengar sekelebatan talkshow di sebuah televisi swasta. Yakni tentang penyiksaan di sebuah panti asuhan. Yang bertanggung jawab adalah seorang petinggi agama. Semua anak asuh mengaku disiksa, tapi pengasuhnya yang juga pemuka tempat ibadah menolaknya. Oleh: Mochamad Yusuf * Saat dikonfirmasi dengan pengacara korban, sang pengacara jengkel karena pengasuh tersebut selalu membawa nama Tuhan. "Di sana ada 16 orang mengaku disiksa, sedang di sana (di TV) mengaku tidak ada. Janganlah membawa Tuhan. Coba lihat hati nurani. Jangan sampai Tuhan harus disalib kembali..," katanya berapi-api. Wajah pemuka agama hanya menunduk terus. Lalu di kesempatan lain ada wakil rakyat yang bersaksi tidak terima suap. Padahal jelas stafnya mengambil. Mana mungkin seorang staf berani melakukan kalau tanpa disuruh. Dia ngotot tidak terima, bahkan masih berani marah-marahin jaksanya dan menakuti bisa berdosa. Aduh... saya sendiri tidak tahu mana yang benar, meski bukti-bukti dan saksi-saksi...

18 Sekolah Ikatan Dinas Yang Siap Terima IPS! Sekolah Otomatis Jadi PNS | Vlog Kedinasan

Gambar
Dalam hidup kadang kita salah mengambil keputusan. Salah satunya adalah mengambil jurusan saat kuliah. Menurut survei yang dilakukan Indonesia Career Center Network (ICCN) pada 2017, ada 85% mahasiswa yang merasa salah ambil jurusan. Berarti hampir seluruh mahasiswa salah jurusan ya? Hehehe. Demikian juga saat sebelum menginjak bangku kuliah, yakni waktu SMA (dan sederajat). Banyak yang merasa salah jurusan, seperti ambil IPS. Baru terasa saat mau masuk sekolah kedinasan ikatan dinas. Ternyata kebanyakan mensyaratkan dari jurusan IPA. Waduch.. Bagaimana ini? Ihik-ihik. Namun ternyata masih ada beberapa prodi di sekolah kedinasan tersebut yang bisa dimasuki lulusan IPS. Berikut ini 19 prodi dari 18 sekolah kedinasan berikatan dinas yang dapat menerima lulusan SMA sederajat dengan jurusan IPS. Dari sana, lulus langsung jadi ASN (dulu namanya PNS). Bebas SPP dan dapat terima uang saku. Ini sesuatu yang banyak dicari saat resesi seperti sekarang ini. Tentu semua ingin, maka persaingannya j...

Tanya Jawab Seputar Seleksi Masuk AKMIL/AKPOL #1 | | Vlog Kedinasan

Gambar
Banyak pemuda sejak kecil bercita-cita menjadi perwira TNI/Polri. Maka salah satunya lewat Akademi TNI/AKPOL. Namun mereka sudah ketakutan sendiri. Karena banyak pertanyaan yang bergelayut. Misal: kami hanya anak rakyat biasa, bukan pejabat TNI/Polri apakah nanti bisa lolos? Apakah perlu backingan agar lolos? Pertanyaan-pertanyaan ini sering ditanyakan. Entah itu pertanyaan dalam hati atau sekedar obrolan biasa. Dan tak tahu jawabnya. Berikut video yang mengumpulkan berbagai pertanyaan yang sering ditanyakan dan tentu saja disertakan jawabannya. Karena saking banyaknya dan video tak perlu panjang durasinya maka akan dibuat bersambung. Beberapa pertanyaan itu adalah: - Bagaimana caranya agar lulusan SMA IPS dapat menjadi perwira TNI AL? - Saya ingin bertanya yang berijazah SMA program BAHASA, bisa diterima di AKMIL/AKPOL? - Berapa persen peluang masuknya lulusan dari jurusan IPS? - Seandainya saya melampirkan sertifikat dari PASKIBRAKA apa semakin besar peluang masuknya? - Tes akademik...

Apa yang Kamu Cari di Gontor (1): Mengapa Saya Memasukkan Anak Saya ke Gontor (versi singkat)

Gambar
Banyak pertanyaan ke saya, mengapa menyekolahkan Zelda, putri saya, ke Gontor. Biasanya saya jawab dengan senyuman saja. Entahlah apa yang menjadi alasan saya. Wong saya dan istri sejak SD sampai PT di negeri. Namun kalau ditelisik lebih dalam ada beberapa alasan: Pertama, ini upaya kita sebagai orang tua memenuhi perintah Allah di QS 66:6. Ya, ini ikhtiar kami, meski tidak berarti kami tidak bertanggung jawab terhadap pendidikan anak kami. Kedua, memberi warna baru pada pengalaman hidupnya. Bertemu teman seluruh Nusantara (kebinnekaan sesungguhnya), bahkan seluruh dunia. Hidup di tempat baru, jauh dari rumahnya. Belajar hal baru, pengalaman baru, tantangan baru. Dan lainnya. Ada beberapa hal lain. Tapi 2 hal ini yang utama. Saya tahu di Gontor akan sangat berat. Karena itu saya mohon doanya agar Zelda bisa istiqamah dan ikhlas sampai menuntaskan pendidikannya di Gontor sampai selesai. Terima kasih. Salam dari GP 1, Ngawi.

Saat Ini Semua Pelaku Pendidikan Berat.. (Mungkin Hanya Pesantren Yang Belum)

Gambar
Miris mendengarkan berita seorang Ibu yang harus menghukum keras anaknya gara-gara tidak mau sekolah daring. Anaknya tersebut masih duduk kelas 1 SD. Karena pukulan bertubi-tubi dengan gagang sapu maka akhirnya sang anak meninggal dunia. Oleh: Mochamad Yusuf* Sedih. Berita ini sepertinya puncak dari berbagai kisah nestapa tentang sekolah daring. Sebelumnya dikabarkan banyak anak sampai jadi penjual koran, penjual jajanan sampai kerja sebagai tukang batu. Semua dilakukan hanya ingin memiliki HP dan pulsa. Semoga berita kematian di Tangerang itu akhir dari sisi negatif sekolah daring. Tidak ada lagi berita-berita sedih tentang hal ini. Memang sekolah daring tidak enak. Semua ingin kembali ke kelas. Menuntut ilmu sambil bercengkerama dengan teman-teman. Tapi kondisi pandemi belum memungkinkan. Malah situasinya seperti memburuk. Semakin banyak yang terjangkit Covid-19 dan meninggal karenanya. Tidak ada yang mau kondisi seperti ini. Mahasiswa saya saja (jauh dari kondisi SD kelas 1 tersebut...

Apa yang Kamu Cari di Gontor (1): Mengapa Saya Memasukkan Anak Saya ke Gontor

Gambar
Banyak pertanyaan ke saya, mengapa menyekolahkan Zelda, putri saya yang lulus SD, ke Gontor. Biasanya saya jawab dengan senyuman saja. Entahlah, apa yang menjadi alasan saya. Wong saya dan istri sejak SD sampai PT di negeri. Pekerjaan saya selama ini juga tidak terkait dengan pondok. Namun kalau ditelisik lebih dalam adalah beberapa alasan: Pertama, ini upaya kita sebagai orang tua memenuhi perintah Allah di QS 66:6. Ya, ini ikhtiar kami, meski tidak berarti kami tidak bertanggung jawab terhadap pendidikan anak kami. Kedua, memberi warna baru pada pengalaman hidupnya. Bertemu teman seluruh Nusantara (memahami kebinnekaan sesungguhnya), bahkan dari seluruh dunia. Hidup di tempat baru, jauh dari rumahnya. Belajar hal baru. Mendapat pengalaman baru. Mendapat tantangan baru. Dan lainnya. Ketiga, tantangan mendidik anak sekarang tidak mudah. Adanya internet dan gadget, menjadi godaan negatif yang luar biasa. Menyekolahkan di Gontor, minimal bisa mengkonsentrasikan hidupnya agar lebih fokus ...

Pemimpin itu Harus Berani!

Gambar
Suatu malam saat saya jadi Ketua RT. Jam sudah agak malam. Antara pk 21.00-an. Pintu saya diketuk. Beberapa warga membangunkan saya yang sudah tidur karena capek bekerja seharian. Mereka mengadukan adanya sebuah rumah yang mendatangkan wanita yang tidak jelas. Mereka menakutkan dia wanita yang tidak baik. Mereka resah terhadap situasi hal ini. Mereka minta saya sebagai Ketua RT untuk mengusirnya. Waduch... Urusan pelik. Bagaimana kalau mereka tidak mau mengeluarkan wanita itu. Bagaimana kalau wanita itu kerabatnya. Ini ada dalam pikiran saya. Dengan ogah-ogahan karena ngantuk dan cemas, saya ikuti warga. Di sebuah rumah sudah banyak warga yang berkumpul. Mereka menunjuk sebuah rumah yang tidak jauh dari rumah tersebut berisi masalah yang bikin resah. Akhirnya dengan baca Basmallah, saya beranikan diri menuju rumah itu. Tampak di depan banyak pemuda. Sebagian tidak pakai baju. Tampak kekar. Sepertinya mereka para tukang yang lagi membangun rumah itu. Maklum saya Ketua RT pertama di peru...

Profesinya Sebagai Pahlawan

Gambar
Gedung Kejaksaan Agung terbakar (22/8). Kebakaran selama 12 jam ini menghanguskan seluruh gedung utama. Baru padam setelah dikerahkan lebih dari 40 mobil pemadam kebakaran (damkar) dan 200 petugas. Oleh: Mochamad Yusuf* Pondok Modern Gontor sendiri juga pernah terbakar (G2). Tahun ini juga (21/1). Memang tidak banyak yang tahu. Hanya kebakaran menghanguskan 1 ruang saja. Karena kebakaran Kejaksaan Agung itu saya nonton film-film bercerita petugas damkar. Backdraft (1 & 2) dan Ladder 49. Mungkin ada banyak. Setelah ini mungkin melihat film lainnya. Baru sekarang saya menyadari ada profesi sebagai pahlawan. Bagaimana tidak? Saat orang lain berusaha keluar dari kebakaran, mereka malah masuk ke kebakaran. Bukan sok gaya atau nyalinya tinggi. Tapi mereka berusaha menyelamatkan nyawa orang lain. Apakah bukan ini yang disebut pahlawan? Berkorban untuk kepentingan orang lain? Kalau lihat film itu untuk jadi petugas damkar di Amerika sana harus ikut pendidikan. Akademi. Strukturnya semi mil...

Ini Karena Allah Bukan Karena Kepintaranku

Gambar
(Ket. foto: ananda siap kembali ke pondok untuk belajar setelah menemui kami walinya. Bukunya tetap dibawa meski tidak pelajaran). Kemarin (22/8) ananda yang mondok di Gontor Putri 1 (GP1) telpon. Dia bercerita nilainya ada di peringkat bawah dari teman sekelas. Ya, saat ini di Pondok sedang ujian. Oleh: Mochamad Yusuf* Katanya nilai itu di kelas 2, sekarang dia kelas 3, sudah termasuk peringkat atas atau bagus. Ya, memang dia di kelas 3 ini naik urutan kelasnya. Di Gontor urutan kelas berdasarkan prestasi sebelumnya. Kelas B adalah paling atas. Terdiri dari anak-anak yang nilainya baik di kelas sebelumnya. Dilanjutkan ke bawah kelas C, D dan seterusnya. Kalau di kelas abjad paling belakang berarti prestasinya kurang bagus. Demikian juga urutan absen di kelas. Urutan nomor 1 paling bagus nilainya. Dilanjutkan urutan nomor 2, 3 dan seterusnya. Kebijakan ini persis seperti saat saya dulu di sebuah SMP negeri di Surabaya. Maka urutan absen terbawa di segala kegiatan. Misal: pasukan khusu...

Punya Anak Mau Mondok dan Pasangan Mendukung Itu Rezeki

Gambar
(Ket. foto: saya, istri, ananda dan temannya serta ibu saya berfoto di pondok Gontor Putri 1. Kami sebagai wali mendukung putri kami ke pondok. Juga keluarga besar kami. Alhamdulillah). Dari beberapa grup Gontor yang saya ikuti, baik WhatsApp dan Facebook, banyak yang menulis punya anak mau mondok itu adalah rezeki. Betul. Oleh: Mochamad Yusuf* Apalagi kalau keinginan dari sang anak. Itu luar biasa. Maka itu hal yang harus disyukuri. Alhamdulillah. Karena mondok adalah pendidikan yang penuh perjuangan. Dari anak juga walinya. Kalau sebagai wali karena pentingnya dan besar manfaat mondok, perjuangan itu akan dilakukan. Tapi kalau sebagai anak, karena belum banyak pengalaman, maka sekolah di pondok kemungkinan ada rasa takut. Maka benar yang ditulis itu. Punya anak mau mondok itu adalah rezeki. Namun itu masih belum cukup. Saya banyak bertemu dengan anak yang ingin mondok. Tapi tak bisa mondok. Karena salah satu walinya tidak mau. Saya juga banyak bertemu para bapak yang setuju anaknya...

Sekolah Lagi atau Tetap di Rumah?

Gambar
Saat ini ramai diperdebatkan di masyarakat. Apakah saatnya kembali belajar di sekolah atau tetap belajar di rumah. Ini khususnya terjadi pada kota yang sudah mulai membuka sekolah secara terbatas seperti Surabaya. Oleh: Mochamad Yusuf * Seperti diberitakan, pemerintah kota Surabaya berencana membuka beberapa sekolah SMP untuk tahap uji coba dimulainya belajar tatap muka. Untuk sekolah negeri, kemungkinan mereka patuh. Untuk sekolah swasta, ada yang menolak. Sebenarnya riskan, kalau sekolah dengan sistem bertemu di sekolah terus pulang kembali ke rumah. Karena saat di luar sekolah, ada kemungkinan terkena penularan Covid-19. Namun kalau terus dilanjutkan belajar di rumah, tidak cukup efektif untuk banyak menyerap ilmu. Kondisi keluarga, fasilitas dan lainnya susah untuk full Daring. Dan memang tidak mungkin sama hasilnya belajar dengan bimbingan langsung dan belajar sendiri. Maka yang terbaik seperti sekarang ini. Libur. Isolasi diri di rumah. Mereka diminta belajar sendiri di rumah. Gu...

Fasilitas Sekolah Kedinasan

Gambar
Saat ini banyak orang kesulitan mencari nafkah. Akibatnya mungkin susah menenuhi kebutuhan keluarga. Termasuk bayar sekolah anak. Maka pengumuman Kemenhan yang membuka pendaftaran sekolah kedinasan dengan biaya gratis seakan oase. Di lain pihak Kemenkeu malah menutup pendaftaran sekolah kedinasannya. Sebenarnya sekolah kedinasan itu bisa jalan keluar bagi rakyat kecil untuk menaikkan taraf hidup keluarganya. Biaya gratis atau minimal murah, tapi dapat fasilitas cukup dengan kualitas pendidikan yang bagus. Serta lulus tidak bingung cari kerjaan lagi. (Ket. foto: masker berlogo dikirim kampus ke rumah para mahasiswanya yang sementara tidak bisa kembali ke kampus karena ada pandemi Corona).