Postingan

Menampilkan postingan dengan label itb

FEATURES

Tak Percaya Ini Bukan Mimpi

Gambar
Sejak Kamis, 20 Desember 2018, saya berada di Bandung bersama keluarga. Sejak lama saya merencanakan agar Zidan bisa menggunakan liburannya yang 2 minggu itu dengan baik. Karena Zidan kelas 3 SMA, maka saya ingin mengajak melihat beberapa perguruan tinggi di Bandung. Salah satunya ITB yang dulu saya idamkan. Siapa tahu juga Zidan nanti mengidamkannya. Namun saya berencana, di sela-sela melihat perguruan tinggi itu, saya mencoba mengikuti pengajian yang banyak di Bandung. Khususnya dengan ustadz Aam Amirudin dan Teuku Hanan Attaki yang jadi idola saya. Hampir saya tidak percaya, Ustadz Aam ada jadwal. Maka saya datangi di TSM (Trans Studio Bandung). Ternyata belum ditakdirkan. Ust Aam berhalangan. Saat sudah pasrah tidak bisa bertemu karena mau pulang, ternyata tadi pagi ada jadwal Ust Aam. Ternyata Allah merencanakan lebih baik. Di masjid lebih kecil ini, bisa lebih enak ngobrol dengan Ust Aam, berfoto dan minta tanda tangan pada Al Qur'an yang diterjemahkannya. Dan bisa duduk pali...

Bandung Kini (3): Tak Mungkin Lagi Berkeliling Naik Sepeda

Gambar
Zelda dan bundanya makan Batagor di dekat Pasar Baru Bandung Tapi berbeda dengan liburan akhir tahun 2013 lalu saat saya ke Bandung. Karena berangkat bareng keluarga, saya tidak mau berpetualangan sendiri. Alias jalan-jalan sendiri. Maka saya, istri dan Zelda (anak saya yang terakhir) naik sepeda motor. Tujuan utamanya adalah ke pasar Baru. Oleh: Mochamad Yusuf * Pada 1999 saya ke Bandung. Saya tinggal di sebuah perumahan. Tepatnya di jalan Batik Pekalongan. Ini adalah rumah yang dikontrak alumni SMAN 5 Surabaya yang kuliah di ITB. Saya minta ijin tinggal di sini pada salah satu penghuninya yang merupakan teman akrab. Saya memang harus ke Bandung, tapi tidak ada kerabat yang tinggal di Bandung. Maka menginap di rumah kontrakan teman-teman ITB adalah solusinya. Jelas saya tidak berpikir untuk tinggal di hotel. Tidak mampu meski kelas melati sekalipun. Hehehe. Tujuan saya ke Bandung itu adalah melepaskan dahaga saya tentang kerinduan berkuliah di ITB. Sejak kecil saya bercita-cita kulia...

Bandung Kini (1): Impian Tinggal di Kota Bandung

Gambar
(ref: dok. pribadi) Saya tidak terima dengan hasil ini. Saya belajar lebih keras lagi mempersiapkan UMPTN tahun depannya. Lalu berkunjung ke kerabat minta doa restu. Lebih rajin datang ke masjid untuk berdoa. Akhirnya datang kesempatan kedua. Tapi saya tetap gagal diterima di ITB. Oleh: Mochamad Yusuf * Akhir tahun kemarin saya beserta istri, Zidan dan Zelda (anak-anak saya) berlibur ke Bandung. Kita di sana selama seminggu. Satu hari di antaranya kita gunakan ke Jakarta. Sebenarnya saya dan istri sudah sering ke Bandung. Juga Jakarta. Namun kebanyakan dalam rangka dinas. Jadi waktunya hanya sebentar. Paling sehari dua hari. Itu pun datang ke lokasi dinas, selesai langsung pulang. Praktis tidak ke mana-mana. Paling hanya jalan-jalan seputar hotel atau tempat dinas. Jadi ini pertama kali bagi saya dan istri, sejak menikah, liburan di Bandung. Dan pertama kali bagi Zidan dan Zelda di Bandung. Termasuk pertama kali bagi Zelda di Jakarta. Sedangkan Zidan pernah sekali ke Jakarta. Tentu pe...

Rahasia Rejeki (46): Yang Kaya Makin Kaya, Yang Miskin Makin Miskin?

Gambar
Bila mereka diadu, tentu saja ini seperti berlomba dengan start yang tak sama. Mereka yang kaya akan start beberapa jarak di depan yang miskin. Diadu apapun yang di depan ini kemungkinan besar menang. Oleh: Mochamad Yusuf * Dulu waktu ujian skripsi saya pernah memberikan kritik ke dosen penguji. Bahwa PTN (perguruan tinggi negeri) tidak adil dalam menyaring calon mahasiswanya. Lho kok bisa? Bukankah semua harus mengikuti ujian yang sama? Bahkan soalnya juga sama? Padahal PTN adalah salah satu jalan ampuh untuk sukses. Apalagi saat dulu dimana sarjana tak begitu banyak. Lulusannya begitu mudah mencari pekerjaan. Apalagi bagi lulusan PTN favorit seperti UI, ITB, UGM, Unair dan lain-lain. Mereka begitu mudah masuk jadi PNS, dan nanti kelak bisa menjadi pejabat. Atau masuk ke BUMN sehingga menjadi direktur. Atau menjadi dokter, sehingga mudah mendapatkan uang dari praktek di rumahnya. Padahal mereka juga kerja sebagai PNS atau RSUD/Puskesmas. Ironisnya biaya kuliahnya juga murah. Bahkan ta...