"Kita tinggal push the button." Kalimat itu diucapkan berulang-ulang oleh seorang CEO sebuah media cetak. Dia ditanya banyak tamu yang kerap berkunjung ke kantor redaksi. Mulai mahasiswa, pejabat, hingga pebisnis. Semua ingin tahu kesiapan koran dengan jaringan terluas di Indonesia itu menghadapi disrupsi digital yang telah menggerus industri media. Ditanya begitu, mantan pemred termuda itu hanya tersenyum. Menurutnya, industri digital masih belum begitu mengancam bisnis media cetak. Dia lantas memberikan contoh betapa media digital masih belum menjanjikan. Misalnya, porsi iklan masih sangat kecil dibandingkan cetak. "Gak sampai 5 persen," cetusnya. Kalaupun nanti saatnya tiba, semua infrastruktur sudah siap. Mulai sumber daya manusia hingga jaringan yang sudah tersebar di seluruh penjuru Nusantara. "Kita tinggal tekan tombol," jawabnya sambil tertawa terbahak-bahak. Waktu pun berlalu dengan cepat. Bisnis digital makin mendisrupsi media cetak. Oplah turun...