Postingan

Menampilkan postingan dengan label unair

FEATURES

Selamat Jalan Pak Yan Yan Cahyana

Gambar
Saat lulus SMA saya diterima di Komunikasi Unair. Sebuah pilihan yang tidak saya inginkan. Maka saya tidak tahu nanti harus kemana, meski saya pilih komunikasi karena selain sebagai pilihan terakhir, juga karena waktu SMA saya prestasi di dunia jurnalistik. Tapi saya tidak ingin jadi wartawan. Maka saat bertemu dengan Pak Yan Yan Cahyana, saya mendapat gambaran baru tentang sebuah masa depan. Yakni komunikasi pemasaran. Dialah yang mengampu mata kuliah terkait hal tersebut. Karenanya saya seperti mendapat semangat baru. Bahkan nantinya bercita-cita ingin kerja sebagai insan periklanan di stasiun TV (dan kelak tercapai). Dan sampai sekarang masih berkecimpung di dunia komunikasi pemasaran. Lalu menjadi akrab setelah beliau tahu saya satu organisasi dengannya waktu kuliah. HMI. Maka ketika tahu saya hanyalah mahasiswa miskin, beliau banyak membantu saya. Seperti memberi banyak informasi beasiswa secara pribadi, yang surat pemberitahuannya langsung diberikan ke saya. Sampai lulus pun masi...

Master of Facebook (5): Mengapa Tak Kuliah di UNAIR?

Gambar
Ketika ditanya waktu kuliah oleh atasan, saya jawab apa adanya. Lama dia berpikir. Sepertinya mencari kalimat yang pas. Akhirnya dimulailah perbincangan panjang. Saya tahu maksud pembicaraan ini. Oleh: Mochamad Yusuf * Ketika keputusan kuliah S2 sudah bulat, maka saya tak perlu pikir panjang lagi untuk memilih perguruan tingginya: UNAIR! Jelas alasannya. Nama besar, PTN favorit dan alumni. Alumninya telah tersebar di seluruh Indonesia bahkan dunia dan telah berkiprah di berbagai institusi pemerintah, BUMN dan swasta ternama. Selain itu memang pilihannya cuma sedikit, karena saya hanya berniat mengambil bidang komunikasi. Ini saya maksudkan supaya S2 saya linier dengan S1 saya yang komunikasi. Di Surabaya hanya ada 2 perguruan tinggi (PT) yang buka S2 Komunikasi: UNAIR dan UNITOMO. Mudah bagi saya untuk cari informasi tentang pasca Komunikasi UNAIR ini. Karena Komunikasi UNAIR adalah almamater saya. Saya kontak dosen-dosen yang telah mengajari saya di strata 1 itu. Semuanya welcome. Me...

Rahasia Rejeki (46): Yang Kaya Makin Kaya, Yang Miskin Makin Miskin?

Gambar
Bila mereka diadu, tentu saja ini seperti berlomba dengan start yang tak sama. Mereka yang kaya akan start beberapa jarak di depan yang miskin. Diadu apapun yang di depan ini kemungkinan besar menang. Oleh: Mochamad Yusuf * Dulu waktu ujian skripsi saya pernah memberikan kritik ke dosen penguji. Bahwa PTN (perguruan tinggi negeri) tidak adil dalam menyaring calon mahasiswanya. Lho kok bisa? Bukankah semua harus mengikuti ujian yang sama? Bahkan soalnya juga sama? Padahal PTN adalah salah satu jalan ampuh untuk sukses. Apalagi saat dulu dimana sarjana tak begitu banyak. Lulusannya begitu mudah mencari pekerjaan. Apalagi bagi lulusan PTN favorit seperti UI, ITB, UGM, Unair dan lain-lain. Mereka begitu mudah masuk jadi PNS, dan nanti kelak bisa menjadi pejabat. Atau masuk ke BUMN sehingga menjadi direktur. Atau menjadi dokter, sehingga mudah mendapatkan uang dari praktek di rumahnya. Padahal mereka juga kerja sebagai PNS atau RSUD/Puskesmas. Ironisnya biaya kuliahnya juga murah. Bahkan ta...