FEATURES

Rahasia Rezeki (7): Rezeki Lain, Mendapat Istri


"Kamu tahu Suf. Meski aku mengalami hal seperti itu, dan kadang dipikir-pikir rasanya menjengkelkan, saya bersyukur harus bekerja di perusahaan itu. Karena saya mendapat jalan rezeki lain."

Oleh: Mochamad Yusuf*

Siang itu saya dan seorang teman menikmati sedapnya makanan di sebuah restoran. Teman ini adalah teman di kantor lama. Masuknya hampir bersamaan. Tapi dia lebih dulu beberapa bulan sebelum saya masuk. 

Dia adalah teman seperjuangan. Istilah saya. Karena nyaris masuk bersamaan, sehingga perlakuan ke dia hampir sama dengan perlakukan ke saya. Sebagai karyawan yunior tentu harus banyak melakukan banyak tahap. Masa percobaan, training, ‘ngenger’ jadi asisten dari seorang senior dan bekerja beragam pekerjaan yang kerap itu merupakan tanggung jawab dari senior itu sendiri.

Namun saya menikmati itu semua. Bahkan banyak pekerjaan, yang bukan sebagai bagian dari uraian pekerjaan (job description), harus saya lakukan. Awalnya hanya untuk mengenal karena masih terkait dengan pekerjaan saya. Tapi akhirnya saya belajar secara sungguh-sungguh untuk menguasainya. (Kelak ternyata ini sangat berguna, dan menjadi jalan rezeki saya tersendiri).

Tapi teman saya ini tidak menikmati pekerjaan tambahan dan tahapan ‘perploncoan’ seperti saya. Sering dia menggerutu kalau ada hal seperti ini. Kalau sudah seperti ini dia akan menumpahkan kekesalannya pada saya. Karena hal ini, hubungan pertemanan kita cukup kental. 

Akhirnya kita harus berpisah. Saya keluar dan bekerja di perusahaan yang baru. Sedang dia masih di sana. Namun nantinya beberapa bulan kemudian dia juga keluar. Setelah itu saya tak mendapat kabar darinya. 

Awalnya karena masih meniti karir di perusahaan baru, saya fokus bekerja dan tak begitu tertarik pada hal lain. Setelah lama baru saya ingin tahu kabarnya. Saya kontak nomor selulernya, ternyata sudah tak aktif semua. Untungnya saya tahu alamat rumahnya. Dari alamat ini akhirnya saya bisa menemukan kontaknya.

Sungguh senang bisa bertemu kembali. Meski hanya suaranya saja. Akhirnya kita sepakat bertemu di restoran ini. 

Kesan awal ketika bertemu pertama kali, saya lihat teman saya sudah sukses. Dari pakaian, gaya rambut, aksesoris, HP sampai kunci mobil terlihat dia sudah makmur.

"Kamu sudah sukses ya? Berarti nggak seperti dulu lagi ya? Disuruh-suruh," seloroh saya setelah berbasa-basi dan membicarakan keluarganya. "Ha ha ha. Betul betul betul," jawabnya dengan riang. Sepertinya dia senang dengan pernyataan saya.

Mulailah dia menceritakan perjalanan karirnya. Awalnya setelah keluar dari perusahaan kita dulu, dia melamar ke perusahaan sejenis. Bekerja beberapa bulan tidak betah, dia pindah lagi ke perusahaan lain. Setelah ganti beberapa perusahaan dalam waktu yang singkat, dia memutuskan untuk bisnis sendiri.

Awalnya berat. Dia takut gagal dan mengecewakan keluarganya. Namun istrinya sangat membantunya. Mulai dari membantu modal, meminjam uang dari orang tua dan saudara-saudaranya, sampai tetap membesarkan hati ketika usahanya gagal. Juga selalu memberi ide dan semangat untuk selalu maju. 

"Istriku adalah kekayaan luar biasa yang kumiliki. Dialah yang menjadi sumber inspirasi, motivasi sekaligus motor penggerak sampai aku demikian sukses seperti ini. Entahlah. Apa aku bisa jadi seperti ini kalau tak memilikinya," begitu kata-katanya mengakhiri ceritanya yang panjang.

Lalu dia diam, sehingga saya diam juga. Untuk memecahkan ini saya menyatakan sesuatu yang bermaksud guyon, "Tentu saja kamu nggak mau lagi seperti di perusahaan kita dulu ya. Dan kamu pasti menyesal mengapa harus ke perusahaan dulu, nggak langsung ke bisnis sendiri... Hehehe."

Tapi tak seperti dugaan saya, dia tak menangapi guyonan saya. Dia diam, bahkan kemudian serius dan berkata, "Kamu tahu Suf. Meski aku mengalami hal seperti itu, dan kadang dipikir-pikir rasanya menjengkelkan, saya bersyukur harus bekerja di perusahaan itu. Karena saya mendapat jalan rezeki lain" 

"Kenapa?" tanyaku. "Karena aku mengenal istriku waktu di perusahaan kita dulu. Kalau saya tak bekerja di situ, saya nggak yakin dia jadi istri saya." 

Saya terpana. Rasanya dia dulu tak memiliki hubungan dengan seorang wanita. "Memang kita tak menjalin secara serius di kantor kita yang lama," dia sepertinya bisa membaca pikiran saya. 

"Di kantor kita lama itu, saya kenal dia karena dia adalah temannya, dia menyebut sebuah nama. Kamu tahu dia kan? Dia teman kita di departemen sebelah. Awalnya hanya sebagai teman. Kelak setelah saya keluar, akhirnya kita serius membina hubungan sehingga sampai menikah."

"Sekarang saya sadar bahwa kadang di situasi yang tak menyenangkan pun ada sebuah rahasia untuk kita. Entah sebuah jalan rahasia mendapat rezeki dalam bentuk lain, seperti dapat istri itu." 

"Kini saya siap saja kalau mengalami hal terburuk apapun. Karena bisa saja itu membukakan jalan rahasia rezeki kita yang lain. Tentu selama kita tetap berusaha dan berdoa," katanya mengakhiri pertemuan kita.

Di mobil dalam perjalanan pulang, saya merenungi perkataan terakhirnya. "Ya, betul teman. Memang kadang ada banyak rahasia melingkupi sebuah peristiwa. Termasuk saya bersyukur bisa bertemu dan berteman denganmu," kata saya dalam hati. [TSA, 20/10/2010 bakda subuh]

Related Posts

Komentar

  1. Update terakhir [16/4/2026] saat saya baca tulisan ini sekarang, saya lupa siapa yang jadi tokoh utama cerita ini. Kantor ini kantor pertama saya. Yakni selulus kuliah di 1995. Resigned akhir 1998. Jadi puluhan tahun lalu.

    Monggo teman saya yang merasa jadi tokoh cerita ini, tolong kontak saya. Rasanya sudah sangat lama kita berpisah dan tak berkomunikasi lagi.

    BalasHapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah hadir di website kami, Enerlife Solusi Indonesia. Kami akan merespon komentar Anda secepatnya.