Postingan

Menampilkan postingan dengan label rumah

FEATURES

Menikmati Kokok Ayam Kembali

Gambar
Di belakang rumah kami ada pekarangan. Namun tak terpikir saya untuk memelihara ayam. Saya takut kerepotan yang akan dibuat. Sampai suatu ketika, kakak saya memberi 4 ekor ayam. 3 jenis Bangkok dan 1 kampung. Satu jantan dan 3 betina. Mulailah memelihara ayam. Sampai kemudian mati satu demi satu. Berurutan tiap hari. Beberapa waktu kemudian beli sepasang ayam lagi. Tapi tak lama kemudian mati. Jadinya malas lagi memelihara. Sebenarnya saat lihat kandang kosong, ingin memelihara ayam lagi. Tapi takut mati lagi. Tapi saat ke Pujon, kita minta ayam pada adik. Maka beberapa hari ini mulai memelihara ayam lagi. Dan mulailah kami mendengar kokok ayam kembali. Meski agak 'error'. Lha berkokok kok pukul 6? Apapun itu disyukuri. Hehehe. Alhamdulillah.

Rahasia Rejeki (83): Rejeki Rumah Kontrakan

Gambar
Ayah sempat menyesal harus berpisah dengan rumah itu, karena terpaksa harus dijual. Dan selalu kalau ada penderitaan datang di rumah baru kita, Ayah selalu membandingkan dengan rumah kita yang lama. Oleh: Mochamad Yusuf * Suatu ketika saya mendapat email dari seorang teman. Teman ini dulunya satu kantor dengan saya, dan sekarang dia berwiraswasta. Setelah bertukar balas lewat beberapa kali email, akhirnya saya tanya di email terakhir tentang rumahnya. Saya tanyakan bagaimana kabar rumah barunya? “Kosong, mas,” katanya. “Lho, apa tidak didiami? Tidak dikontrakkan?” tanya saya. “Tidak. Di sini anak-anak lebih kerasan. Juga dekat dengan Ibu. Dan yang penting, rumah ini ngrejekeni,” jawabnya. Hehehe, saya tersenyum. Ngrejekeni ini istilah Jawa. Artinya banyak mendatangkan rejeki. “Kalau begitu, kenapa tidak sekalian dibeli saja?” “Tidak boleh, mas. Katanya rumah ini buat anak-anaknya kelak. Tapi sudah saya kontrak sampai 10 tahun ke depan.” Bagi saya, tidak ditempati rumah barunya adalah h...

Rahasia Rejeki (83): Rejeki Rumah Kontrakan

Gambar
Ayah sempat menyesal harus berpisah dengan rumah itu, karena terpaksa harus dijual. Dan selalu kalau ada penderitaan datang di rumah baru kita, Ayah selalu membandingkan dengan rumah kita yang lama. Oleh: Mochamad Yusuf * Suatu ketika saya mendapat email dari seorang teman. Teman ini dulunya satu kantor dengan saya, dan sekarang dia berwiraswasta. Setelah bertukar balas lewat beberapa kali email, akhirnya saya tanya di email terakhir tentang rumahnya. Saya tanyakan bagaimana kabar rumah barunya? “Kosong, mas,” katanya. “Lho, apa tidak didiami? Tidak dikontrakkan?” tanya saya. “Tidak. Di sini anak-anak lebih kerasan. Juga dekat dengan Ibu. Dan yang penting, rumah ini ngrejekeni,” jawabnya. Hehehe, saya tersenyum. Ngrejekeni ini istilah Jawa. Artinya banyak mendatangkan rejeki. “Kalau begitu, kenapa tidak sekalian dibeli saja?” “Tidak boleh, mas. Katanya rumah ini buat anak-anaknya kelak. Tapi sudah saya kontrak sampai 10 tahun ke depan.” Bagi saya, tidak ditempati rumah barunya adalah h...

Rahasia Rejeki (67): Rumah Yang Nyaman Adalah Rejeki Lain

Gambar
“Ya, itu merupakan rejeki yang luar biasa. Terlebih lingkungannya begitu kompak, tetangganya baik dan menyenangkan. Bukankah rumah nyaman tak hanya fisik, tapi juga lingkungan fisik dan non fisik?” Oleh: Mochamad Yusuf * Makhluk hidup apapun pasti selalu ingin memiliki rumah. Terlebih makhluk hidup yang bisa bergerak seperti binatang dan manusia. Mereka akan membangun rumah senyaman mungkin untuk bisa didiami. Hewan akan membuat sarang yang pas untuk bisa didiami. Sarang ini nantinya sebagai tempat beranak pinak untuk tetap mempertahankan eksistensinya di dunia. Tentu saja sebelum mereka membuat sarang, mereka akan mencari tempat yang pas. Beberapa hewan akan mencari lokasi yang tepat sebagai favoritnya. Burung elang akan mencari bebatuan di puncak gunung. Berang-berang akan mencari di sekitar sungai yang memiliki banyak pohon. Burung akan mencari pohon yang rimbun daunnya. Demikian juga dengan manusia. Manusia bila memungkinkan akan mencari lokasi yang tepat untuk rumahnya. Rumah di l...