Postingan

Menampilkan postingan dengan label kampung inggris pare

FEATURES

Tentang Kopi Darat dari Warga Non Darat

Gambar
Saya senang saudari Ningrat Sanres memiliki inisiatif jumpa darat untuk grup Pare di Facebook. Dengan begini bisa menjalin silaturahim dan menambah dulur. Dulu sebelum ada Facebook ada grup di Yahoogroups yang bernama Pareku. Mailing list ini sampai sekarang masih ada, tidak didelete. Tapi sudah mati. Tidak aktif lagi. Pendirinya Fajar dan Ainur, orang Pare yang migrasi ke Ibukota. Saat milis masih aktif, ramai sekali. Lalu suatu saat lebaran, kita kopi darat. Tempatnya di rumah Sony, adiknya Dwijo, pemilik toko Bata di Pare. Selain itu pernah di rumah saya, buka bersama. Saya terharu karena banyak datang dari luar kota hanya untuk jumpa darat ini. Namun sejak ada Facebook, grup itu kekurangan darah. Lama-lama mati. Untung ada grup Pare baru di Facebook. Dan ternyata dari hari ke hari semakin banyak anggotanya. Sekarang sudah belasan ribu. Kalau sekarang ngumpul, entah.. Bagaimana ramainya nanti (apa perlu ijin kepolisian? hehehe). Senang bisa bertemu kalian, dulur Pareku... Hehehe.

Simpang Lima Gumul, the Real Paris of Java

Gambar
Monument of Simpang Lima Gumul, l’Arc de Triomphe de Java After his big victory in Austerlitz, Napoleon Bonaparte wanted to make a monument to honor his loyal army. He then asked the architect Jean Chalgrin to build a victory arch. After Chalgrin passed away, Jean-Nicolas Huyot finished his work. And later in modern day, L’Arc de Triomphe de Étoile has become a must-visited building in Paris. This monument stands at the Chaillot Hill right at the middle of the five-way intersection. About 16 kilometers away from the Arc de Triomphe, I met his “twin” in Indonesia. The building is also located at the five-way intersection, which lead us to Pare, Kediri (the city), Plosoklaten, Wates (Pesantren), and Menang. It’s called Simpang Lima Gumul , in Ngasem Subdistrict, just half an hour land trip from Kampung Inggris in Pare . Do you plan to hold a gig or event in Kediri area? Simpang Lima Gumul might be the right answer. Local government of Kediri alone used to organize some exhibitions of ar...

Antara Pare, Kampung Inggris - Batu, Malang

Gambar
(ref: audaxeastjava.com) Pare adalah daerah di kaki gunung. Sekitar 15 km ke arah selatan sudah menanjak. Mulai di sinilah, jalan-jalan mulai naik turun, berbelok-belok, sejuk, kanan-kiri tebing atau sungai dengan pemandangan yang indah. Contoh: perjalanan ke Malang lewat Pare. Pare memang sering menjadi jalur pintas dari arah barat (Solo, Jogja, Madiun) ke Malang. Normalnya ke arah Surabaya/Sidoarjo terus lewat Sidoarjo, Porong, Pandaan dan ke Malang. Namun ini terlalu jauh. Lewat Pare bisa lebih singkat. Namun kelemahannya jalan sempit, berbelok-belok, naik turun dan gelap kalau malam (karena melewati hutan). Namun bagi beberapa orang ini lebih mengasyikkan, karena melihat pemandangan yang indah. Lereng gunung, sungai, sawah, bukit dan danau. Kalau mau atau capek bisa beristirahat di pinggir jalan sambil menikmati makanan sungguh sedap. Untuk ke Malang, dari Pare naik ke Kandangan, terus Kasembon, Ngantang, Selorejo, Pujon, Batu dan akhirnya Malang. Berikut adalah sebagian kecil fot...

Unique Culinary I Found in Pare

Gambar
Pare, Kediri is not strange for me, because my wife was born and live at this town. Eventhough I was born and live in Surabaya, this city like my hometown for me. If I visit this lovable town, then I found these unique food and beverage. (ref: putroeintan.blogspot.com) Nasi Puyuh (Rice with Fried Quail) Do you know nasi ayam (cooked rice with fried or grilled chicken)? It’s too common in Indonesia. Nasi bebek (duck)? You can find such cuisine everywhere. Nasi burung dara (pigeon)? It is a bit difficult to get, yet can still be found in some food stalls or restaurants. How about nasi puyuh? This is so rare. Usually, people like quail’s eggs. You know, the egg that is only a bit bigger than a marble. On its shell, there are some small black spots. To my knowledge, only in Pare, we can meet nasi puyuh. Want to try? Easy, just go to a small stall in Pelem Village, right at the roadside of Kediri-Jombang/Malang highway, exactly in front of the mosque. But please note that their carte du j...

Tentang Kampung Inggris Pare Kediri(6): Gumul, The Real Paris van Java

Gambar
Saya di depan Arc de Triomphe ala Pare (ref: dok, pribadi) Yang jelas Arc de Triomphe ala Paris eh Pare ini sangat menyenagkan dan sayang kalau dilewatkan. Dan kalau Anda berkeinginan ke Paris namun belum kesampaian, Anda bisa menuju daerah ini untuk sementara. Membayangkan menikmati Arc de Triomphe. Mungkin Napolen Bonaparte kalau hidup malah ngiri dengan monumen ini, karena lebih merakyat. Hehehe. Oleh: Mochamad Yusuf * Setelah memperoleh kemenangan di Austerlitz, Napolen Bonaparte ingin membuat sebuah monumen untuk menghormati jasa tentara kebesarannya. Maka dengan arsitek Jean Chalgrin yang kelak dilanjutkan Jean-Nicolas Huyot karena meninggal, terbangunlah gapura kemenangan. Gapuran kemenangan ini (Arc de triomphe de l'Étoile) atau biasa dikenal sebagai Arc de Triomphe merupakan bangunan yang harus dikunjungi oleh wisatawan saat di kota Paris. Monumen berbentuk pelengkung kemenangan di Paris yang berdiri di tengah area Place de l'Étoile, di ujung barat wilayah Champs-Élys...

Tentang Kampung Inggris Pare Kediri(5): Legen Nira Kelapa (Wisata Kuliner Pare)

Gambar
(ref: zukeri.fotopages.com) Di jalan Kandangan, depan sebuah warung soto daging, ada penjual legen kelapa. Yang jual seorang Ibu. Mulai buka sekitar pukul 10.00 sampai habis. Beda dengan legen, legen nira kelapa ini rasanya manis saja. Tanpa kecut dan tanpa rasa karbonasi. Bahkan kalau kita sentuh minumannnya, terasa lengket. Istilah jawanya, pliket. Oleh: Mochamad Yusuf * Legen, sebagian orang sudah mengenalnya. Sebuah minuman khas dari daerah Tuban dan Gresik. Rasanya seperti campuran dari rasa kecut, manis dan ada karbonasi seperti coca cola. Jadi bisa bersendawa seperti habis minum Coca-Cola. Bahkan minuman legen yang asli, tanpa campuran, dan sudah disimpan lama bisa mengandung alkohol. Sehingga bisa memabukkan juga. Legen ini berasal dari pohon Siwalan. Pohon Siwalan ini banyak tumbuh di pesisir utara Jawa Timur seperti Gresik, Lamongan dan Tuban. Bentuk pohon Siawalan ini seperti kelapa, namun dengan daun yang agak melebar. Seperti daun buah Salak. Cara mendapatkan legen yakni ...

Tentang Kampung Inggris Pare Kediri(4): Nasi Burung Puyuh (Wisata Kuliner di Pare)

Gambar
(ref: putroeintan.blogspot.com) Tapi kalau nasi puyuh? Nasi puyuh? Ya, sama dengan nasi ayam. Nasi dengan lauk ayam dimakan pakai sambal dan lalapan. Namun lauknya bukan ayam, bukan bebek, bukan burung dara tapi burung puyuh. Ya, burung puyuh. Burung yang menghasilkan telur-telur kecil dengan bintik-bintik hitam di kulit telurnya. Oleh: Mochamad Yusuf * Nasi ayam? Ya, itu biasa. Apalagi nasi ayam goreng. Dimana-mana bisa kita temukan. Tidak hanya di mall-mall, restoran, tapi sekarang dengan mudah kita temukan di kampung-kampung. Dari harga mahal sekelas McD, KFC sampai murah meriah seperti Quick Chicken, Tobby Chicken dan lainnya yang seperti bagaikan jamur tumbuh di musim penghujan. Nasi bebek? Ini juga jamak, meski tidak sebanyak nasi ayam. Tapi dengan mudah kita akan temukan nasi bebek. Bahkan jaringan Bebek Purnama sudah memenuhi jalan-jalan di Surabaya dan Sidoarjo (padahal cabang Purnama ini tidak berhubungan dengan aslinya Purnama yang depan bioskop Purnama di Keputran). Nasi b...