Postingan

Menampilkan postingan dengan label beban hidup

FEATURES

Ngerem dan Selanjutnya Ngegas Pol!

Gambar
Bagai Valentino Rossi saat ada tikungan, dia mengurangi kecepatan. Dan selanjutnya saat jalan lurus, dia ngegas pol. Tapi tak semudah Rossi yang hanya tikungan, kalau saya menghadapi jalan bercabang. Entah itu perduaan, pertigaan, perempatan bahkan mungkin lebih. Saya tidak hanya ngerem, tapi mungkin berhenti. Berpikir jalan mana yang harus kuambil. Kini sudah saya putuskan memilih jalan yang mana. Sekarang harusnya tidak ragu. Gas poll... Rem blong... Ya Allah, saat usia sudah lebih dari separuh jalan, semoga jalan ini yang kutempuh benar. Ya Allah, berilah petunjuk, hidayah, rahmat dan kekuatan agar bisa menapak jalanMu yang benar. Ya Allah, saya bersyukur atas kesuksesan, keberuntungan, kesehatan dan kebahagiaan yang keterima. Dan tetaplah Engkau curahkan kepadaku sekarang dan selamanya. Aamiiin. 29/12/2016

Enerlife [6]: Mematok Target Lebih Tinggi

Gambar
(ref: sxc.hu) Mendengar komentar saya ini gurunya malah menimpali, "Zidan, kenapa tidak sekalian semua pelajaran kamu target nilai sempurna? Sepuluh semua?" Pertanyaan ini sungguh menghentak saya. Ya. Kenapa tidak? Oleh: Mochamad Yusuf * Dalam periode tertentu sekolahnya Zidan, anak pertama saya, mengundang orang tua mendiskusikan perkembangan sang siswa. Saat pertemuan ini siswa (sang anak) juga harus datang. Tiga pihak: anak, guru dan orang tua akan membahas masalah apa yang dihadapi anak dan dicarikan solusinya. Biasanya pertemuan ini diawali dengan presentasi anak tentang kemampuan yang dimiliki dan rencana-rencananya ke depan. Pertemuan terakhir agak berbeda. Zidan yang sekarang duduk di kelas 6 mempresentasikan rencana-rencananya dalam menghadapi UNAS. Juga target sekolah mana yang ingin dimasuki selulus SD. Dalam presentasinya itu, dia mentargetkan nilai UNAS untuk Matematika: 9,5, Bahasa Indonesia: 9,5 dan IPA: 10. Total: 28. Melihat hal ini, saya mengusulkan ke Zida...

Tinggalkan Keserakahan Tinggalkan Beban Hidup

Gambar
Dalam hidup kita seringkali seperti monyet. Karena ketamakan, kita tak mau melepas beban yang menghimpit. Kita membawa permasalahan itu kemana-mana. Tak mau meletakkan dengan mencari solusi tepatnya. Oleh: Mochamad Yusuf * Suatu waktu Zelda, putri saya berumur 3 tahun, meminta saya membawakan permen. Dia kerepotan dengan permen yang sudah dibawa di tangan kanan kirinya. Masing-masing tiap tangan sudah ada sekitar 2-3 permen. Dan dia ingin mengambil lagi permen lain yang di meja. Dia minta saya yang membawanya. Mengetahui hal ini saya berkata padanya, "Zel, kenapa permen yang di tanganmu tak kamu masukkan saja di saku? Terus yang di meja, kamu bawa dengan tanganmu? Kalau perlu semua kamu masukkan ke saku," kata saya memberi solusi. "Nggak mau, aku ingin punya permen banyak," jawabnya. "Lho, bukankah meski di saku itu masih permenmu? Dengan memasukkan ke saku, kamu tak akan kewalahan lagi. Tanganmu bisa ambil yang lain, itu ada kue coklat, "jelas saya. Perla...