FEATURES

In Memoriam: Dina Zakiroh Penyelamat Kuliah


Tulisan ini harusnya ditulis 3 bulan lalu. Tapi saya baru tahu saat murid saya posting di beranda Facebooknya Subuh tadi (17/3/2026) "Mengenang 100 Hari Wafatnya Ibu Tercinta 💔". 

Oleh: Mochamad Yusuf*

Lho? Saya kaget. Saya cek akunnya yang di-tag. Betul. Ya Allah, pantas saja saya tak melihat postingannya terakhir-terakhir ini. Di akhir-akhir beliau sering posting tempat yang dikunjungi. Lalu saya komentari.

Beliau adalah Bu Dina Zakiroh. Seorang dosen di Psikologi Universitas 45 Surabaya. Saya bertemu pertama kali puluhan tahun lalu. Saat saya sudah mulai putus asa. Capek dengan hidup. Ihik-ihik.

Waktu itu saya putuskan tetap kuliah di S1 Komunikasi Unair. Hanya modal nekad, karena keluarga tak mampu kalau harus menguliahkan 2 anaknya. Saya ngalah budget untuk kuliah adik di S1 Akuntansi UNESA. 

Saya waktu itu cukup percaya diri mampu membiayai kuliah sendiri dengan tulisan. Sebelumnya di SMA saya jadi kontributor di harian Surabaya Post. Ternyata pikiran saya mampet tak mampu menulis sebuah karya apapun. 

Padahal sudah nekad berhutang pada teman-teman untuk biaya kuliah. Tapi sampai UKT 2 semester, saya tak mampu mendapatkan uang dari tulisan. Bahaya kalau belum bisa dapat uang. Kuliah terpaksa harus berhenti.

Akhirnya ada seorang teman yang menawari untuk mengajar private. Bahkan dia mengantarkan ke rumah calon murid. Sebuah rumah kuno bangunan Belanda depan Universitas Widya Mandala di Jl Dinoyo, Surabaya.

Saat di sana itulah bertemu dengan orang tua calon murid pertama saya. Pak Imam dan Bu Imam, yang kelak saya tahu namanya Bu Siti Dina Zakiroh. 

Setelah mengajar di sana akhirnya saya tahu seluk-beluk mengajar private. Sehingga mulailah banyak murid, sehingga cukup punya uang untuk bayar hutang dan membayar UKT selanjutnya. Kuliah terselamatkan.

Biasanya seusai mengajar, Bu Imam mengajak mengobrol tentang perkembangan anaknya. Tuturnya lembut dan sopan sekali khas orang Jogja. Kalau mengkritik halus sehingga tak menyinggung. Belakangan saya tahu dia putri dari pendiri koran Kedaulatan Rakyat. Koran terbesar di Jogjakarta.

Setelah tak mengajar di sana, saya masih tetap berkomunikasi. Bersilaturahmi bahkan mengajak keluarga saya ke sana. Setelah itu tetap berkontak dengan saling mengkomentari postingan Facebook. 

Terima kasih Bapak dan Ibu Imam diberi kesempatan mengajar sehingga bisa menyelesaikan sarjana saya. 

Innalilahi wa inna ilaihi raji'un. Semoga amal ibadahnya diterima oleh Allah SWT dan keluarga yang ditinggalkannya tetap tabah 🤲🏽🤲🏽. [TSA, 17/3/2026 menjelang Maghrib]


~~~

Keterangan foto: Bu Dina Zakiroh bersama Zidan, putra saya. 

Related Posts

Komentar

  1. Innalilahi wa inna ilaihi raji'un. Semoga husnul khotimah dan keluarga yang ditinggalkannya tetap tabah 🤲🏽🤲🏽

    BalasHapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah hadir di website kami, Enerlife Solusi Indonesia. Kami akan merespon komentar Anda secepatnya.