Postingan

Menampilkan postingan dengan label taman suko asri

FEATURES

Menanam Pisang Mas dan Cavendish

Gambar
Hari ini, 11/1/2022, saya beranikan menanam pisang di kebun belakang rumah. Pisang itu saya beli lewat online beberapa waktu lalu. Ada 3 jenis yang saya beli lewat online tersebut. Yakni Pisang Cavendish, Pisang Mas dan Pisang Barlin. Ini melengkapi Pisang Kepok yang sudah saya miliki sebelumnya. Karena di belakang rumah saya juga pelihara Ayam, saya takut bibit yang saya beli habis dimakan mereka. Maka saya tanam dulu di Polybag dan saya letakkan di taman depan rumah. Sekarang Pisang Mas dan Pisang Cavendish-nya cukup besar, maka perlu ditanam di tanah. Maka saya perbaiki kandang Ayam, agar Ayam tak gampang keluar makan bibit. Yang sudah jadi korban keganasan mereka, 6 bibit Ketela Pohon. Ludes. Dan akhirnya Ketela Pohon ini mati. Semoga 2 Pisang yang saya tanam ini jadi tumbuh subur, berbuah dan beranak pinak. Aamiiin.

Menangis Dengarkan Orang Lain Menangis

Gambar
Saat ini saya mendengarkan program di radio Suara Muslim. Temanya tentang Ayah. Dipermasalahkan saat ini peran Ayah hampir tidak ada. Ayah hanya mencari duit, duit dan duit saja. Pendidikan hanya diserahkan pada ibunya. Saat ada telpon masuk dari seorang Ibu, dia menangis. Mendengarnya saya juga ikutan nangis. Dan mungkin pendengar lain juga ikutan menangis. Pembicara menekankab pentingnya peran ayah dalam keluarga. Ayah harus hadir, meski sibuk mencari nafkah. Ya, saya setuju dengan konsep pembicaranya, Ust Suhadi. Bahwa Ayah itu penting dalam keluarga/ Karena itu banyak hal dalam keputusan dalam hidup saya termasuk karir dipengaruhi hal ini. Sedikit banyak dipengaruhi oleh Ayah. Misal: saya tidak merokok, karena lihat Ayah juga tidak merokok. Padahal kita tidak pernah membicarakan hal merokok ini. Semoga saya tidak salah dalam mengambil keputusan-keputusan di hidup ini. Sehingga tidak ikutan menangis kelak seperti kasusnya Ibu di radio itu.

Takut Punya Hutang

Gambar
Suatu saat setelah keliling perumahan bersama Zidan, anak laki saya, kami melihat tukang bakso di gang sebelah. Terbesit untuk makan bakso. Makanya saya putuskan untuk meminta tukang bakso datang ke rumah saya. Yakni kembali ke gang rumah kami. Saat di rumah entah ada apa dengan Zelda, anak perempuan saya, ngambek dengan saya dan kakaknya. "Kakak dan ayah tidak boleh masuk rumah. Biar tidur di luar, " teriak Zelda. Melihat hal ini, saya berusaha sabar dan melakukan komunikasi. Tapi tetap buntu. Dan sedihnya, tukang baksonya datang. Saya bingung, dompet ada di rumah, kalau tidak beli, saya kasihan dengan tukang bakso yang datang. Cukup lama saya berkomunikasi dengan Zelda, tapi tetap buntu. Mungkin capek menunggu, tukang bakso bilang untuk hutang dulu saja. Lama berpikir saya iyakan usul tukang bakso. Jadinya kita makan di luar dengan Zidan. Di teras. Zelda melihat di depan jendela. Kakaknya memprovokasi, "Kapok kamu, Zel, nggak dapat bakso." Tentu saja saya hentikan...

Pohon sebagai Warisan Generasi Mendatang

Gambar
Suatu saat, entah itu masih di SMA atau kuliah, saya diminta Ayah ke kampung kelahirannya. Di Gumukmas, Jember. Ini memang tak seperti biasanya, karena kalau ke sana biasanya bareng dengan Ayah. Oleh: Mochamad Yusuf* Dan seingat saya itu pertama kalinya saya ke sana sendirian. Saya mungkin mau melakukan itu karena terkait dengan keperluan saya. Ya terkait kebutuhan sekolah saya. Saya lupa persisnya untuk apa. Yang jelas Ayah tak punya uang, namun Ayah bilang ke Jember saja ambil uang di sana. Dulu tak biasa pakai transfer antar bank. Ternyata Ayah menjual warisan pohon kelapanya ke saudaranya yang tinggal di sana. Pohon kelapa itu ditanam kakek. Dan tentunya sudah berbuah. Rutin dan banyak. Ya, lumayan bisa jadi penghasilan. Jadi tentu saja saudara mau membeli kelapa itu karena bisa melanjutkan dapat penghasilan. Saya yakin kakek banyak menanam pohon. Dan pohon kelapanya Ayah itu hanya salah satunya. Saat kakek menanam kelapa itu jelas tahu bahwa kelapa bisa panjang umurnya. Sampai tin...

Wisuda Yang Jadi Momen Bersyukur Keluarga Kami

Gambar
Saat buka Facebook banyak teman yang men-share wisuda anaknya. Karena pandemi kegiatan wisuda lewat daring. Sang anak hanya diwisuda di rumah. Tampak selain teman saya, yang juga orang tua sang ananda, juga saudara dan anggota keluarga lain. Seperti kakek, nenek, paman, bibi dan lainnya. Oleh: Mochamad Yusuf* Momen yang membahagiakan. Karena perjuangan bertahun-tahun akhirnya dapat diselesaikan juga. Sebuah perjuangan yang mungkin dilalui dengan peluh dan air mata. Dan juga momen yang penting. Karena anak sudah dianggap dewasa. Sebab setelah wisuda ini mereka sudah mandiri dengan mulai bekerja. Bahkan bisa jadi pergi jauh dari rumah dan berkeluarga. Wisuda daring tak mengurangi kebahagiaan mereka. Tentu saja kalau bisa memilih, mereka ingin diwisuda bersama teman-teman di kampus tercinta. Disaksikan para dosen dan anggota keluarga. Selamat buat mereka dan saya ikut berbahagia. Semoga menjadi ilmu bermanfaat. Kalau melihat wisuda ini, saya teringat wisuda saya. Khususnya saat wisuda S1 ...

Cinta Kasih Bapak Lewat 3 Pohon

Gambar
Suatu ketika sesaat mulai menempati rumah ini, Bapak dan Ibu datang bersama mobil Anggunanya. Saya lupa persisnya. Ya mungkin sekitar 2001. Di belakang mobil ada beberapa tanaman yang dibawa. Saya lupa apa saja. Yang saya ingat ada 3 pohon yang nantinya jadi besar. Cemara, Belimbing buah dan sebangsa Akasia (tak tahu namanya). Pohon Akasia ditebang 2006 saat bikin jalan baru untuk motor. Dan Belimbing dipotong habis 2020 kemarin. Dipotong karena daunnya memenuhi atap garasi. Sering bikin mampet aliran air di genteng. Yang terakhir Cemara. Saya pertahankan lama, karena tahu di sini banyak burung tinggal dan bersarang. Saya ingat sebuah hadits, barangsiapa memberikan kehidupan pada makhluk hidup, maka yang menanam akan mendapat amal jariyah. Setelah lebih dari 20 tahun pohon itu sudah sangat tinggi. Entah sudah berapa meter. Sepertinya pohon paling tinggi di kompleks perumahan kita. Maka dengan berat hati, beberapa hari lalu 22 Juli 2021, kami tebang habis. Sebelumnya saya konsultasi dan...