FEATURES

Kesempatan Tak Datang Kedua Kalinya


Akhirnya karena hanya saya yang mengacungkan, maka pengajian dilanjutkan kembali. Pengajian berikutnya, sang Ustadz juga menawarkan hal yang sama. Sama sang Ustadz menghiraukan. Akhirnya saya lupakan.

Oleh: Mochamad Yusuf*

Hari ini beranda sosial media saya dipenuhi foto-foto perjalanan saya ke Malaysia. Jadi teringat peristiwanya beberapa tahun lalu.

Waktu itu saya ikut sebuah majelis taklim yang mengisi Ustadz Aris Gunawan. Entah bagaimana beliau mengundang ke kajiannya. Saya cek lokasinya tak jauh dari kampus. Dan waktunya di antara jeda saya mengajar. Jadi setelah ngajar bisa kembali ke kampus lagi. Akhirnya rutin saya ikut kajian itu. 

Suatu ketika saat mengikuti taklimnya sang Ustadz menawarkan siapa yang mau menemaninya saat mengajar di Malaysia. Beliau selain punya jadwal kajian di Sidoarjo, Surabaya dan sekitarnya juga di kota-kota di Jawa Timur, Jawa Tengah bahkan di Malaysia.

Saya yang santri baru, tentu sungkan mengajukan diri. Tapi tak ada yang mengacungkan tangan. Akhirnya saya mengacungkan tangan.

Tentu saja sang Ustadz menghiraukan, karena saya memang baru. Harusnya memberi kesempatan pada santri-santri lama. Saya tahu mereka sudah mengikuti kajian Ustadz ini belasan tahun lamanya. Sedangkan saya mungkin baru beberaoa bulan. 

Akhirnya karena hanya saya yang mengacungkan, maka pengajian dilanjutkan kembali. Pengajian berikutnya, sang Ustadz juga menawarkan hal yang sama. Sama sang Ustadz menghiraukan. Akhirnya saya lupakan.

Sampai suatu ketika Ustadz menelpon saya, apakah saya punya paspor. Saya jawab, tidak. Tapi saya bisa mengurusnya. Maka Ustadz minta saya menemaninya ke Malaysia.

Saya mengajukan diri karena tahu ini sebuah kesempatan. Kadang kesempatan itu tak datang lagi untuk kedua kalinya. Kalau datang lagi, situasinya agak berbeda. 

Seperti saat berhaji lalu, saya tak hanya melakukan ibadah juga melakukan penelusuran jejak Nabi. Sehingga saya tak banyak di hotel. Waktu saya banyak di Masjid dan tempat-tempat sejarah. Karena saya pikir ini kesempatan bagus. Belum tentu saya bisa haji lagi. Kalaupun bisa atau umroh, saya mungkin tak sesehat saat itu.

Akhirnya saya berangkat ke Malaysia. Bukan sebagai turis atau TKI, tapi ajudannya seorang Ustadz. Sehingga mendapatkan penghormatan dari mereka. Kita di sana sekitar seminggu. Pengalaman yang keren.

Sekembalinya kerja tanah air beberapa waktu kemudian, sang Ustadz menawarkan lagi ke hadirin siapa yang mau menemaninya ke Malaysia. Sekarang banyak yang mengacungkan tangan. Tentu saja saya tidak, kan sudah.

Namun saat mau berangkat, beliau sakit sehingga dimundurkan. Lalu saat mau berangkat lagi, sakit lagi. Lalu semakin berat akhirnya wafat. Innalillahi wa inna ilaihi raji'un. Semoga amal ibadahnya diterima oleh Allah SWT. Beliau meninggal beberapa waktu setelah istrinya meninggal dunia.

Saat menghadiri pemakamannya, jadi teringat kesempatan itu. Kalau tak saya ambil, tak punya kesempatan ke Malaysia. 

Itulah yang menjadi prinsip saya. Seperti dulu saat mahasiswa ikut pelatihan militer yang diadakan oleh AKABRI selama 1,5 bulan di Lampung. Kesempatan itu istimewa karena tak semua mahasiswa dapat undangan seperti itu. Jadinya punya pengalaman pegang M16, tidur di KRI Teluk Mandar, KRI Teluk Langsa dan KRI Tanjung Oisina. Dan teman-teman TNI dan Polri yang sekarang sudah jendral.

Atau beberapa waktu lalu ketika ada undangan pelatihan di Masjid Jogokaryan. Padahal seminggu. Tapi saya pikir kesempatan itu tak datang lagi, sedangkan kerja bisa minta cuti. Kapan lagi bisa hidup, makan, tidur, beraktivitas, mandi dll di masjid Jogokaryan secara full? 

Betul kegiatan itu tak pernah ditawarkan lagi, karena gerakan ini bubar dan otomatis gak ada panitianya lagi.

Itu yang saya selalu saya sampaikan ke anak-anak dan mahasiswa saya. Kesempatan itu raihlah. Apalagi saat masih muda. Belum ada tanggungan, masih sehat, kuat dan waktu banyak. Kesempatan takkan datang untuk kedua kalinya. [TSA, 8/3/2026 bakda Dhuhur]


~~~

Keterangan foto (dari atas searah jarum jam):

1. Jalan-jalan ke Kuala Lumpur bersama teman-teman Malaysia, 2. Saat ikut latihan di Masjid Jogokariyan, 3. Bersama sang Ustadz dan istrinya di Bandara Juanda sesaat sebelum take off ke Malaysia, 4. Bersama Ustadz di Kuala Lumpur, 5. Bersama teman-teman AKABRI dan STPDN saat latihan militer di Lampung. 

Related Posts

Komentar

Posting Komentar

Terima kasih sudah hadir di website kami, Enerlife Solusi Indonesia. Kami akan merespon komentar Anda secepatnya.