FEATURES

3M Amsal Sitepu


Terbayang dalam hati, berapa malam lagi akan lembur. Yang terlihat nyata proses 'rendering' (menjadikan sebagai video) bisa berjam-jam. Harusnya menunggu selesainya video bisa sampai dini hari.

Oleh: Mochamad Yusuf*

Suatu ketika saat presentasi hasil video profil perusahaan ke direktur utamanya, ditolak hasil video company profile-nya. Karena tak sesuai dengan seleranya. Kami hanya memandang manager yang menjadi PIC. Karena selama ini dialah yang bekerjasama dengan kami. 

Dialah selama ini yang minta ini itu. Karena dia sebagai PIC, ya kami pikir segala permintaan adalah hasil dari diskusi dengan timnya. Termasuk dari direkturnya. 

Tapi dia hanya diam. Lha kan ini atas permintaannya? Kenapa tak dibela atau diberi penjelasan ke direktur selama presentasi itu?  

Jengkel.. Maka saat manager meminta kami untuk mengikuti kemauan sang direktur, kami melengos dan mendongkol dalam hati. 

Terbayang dalam hati, berapa malam lagi akan lembur. Yang terlihat nyata proses 'rendering' (menjadikan sebagai video) bisa berjam-jam. Harusnya menunggu selesainya video bisa sampai dini hari.

Belum harus 'brain storming' lagi mendiskusikan ide kreatifnya dengan tim kreatif. Juga melakukan rekaman ulang (dubbing) untuk 'announcer'. Padahal harus kontak lagi dan cari waktu yang tepat dengan talentnya (seorang penyiar radio). Dan lainnya yang akan menjadi rentetan.

Maka tak habis pikir melihat kasus Amsal Sitepu yang sedang viral. Seorang videografer di kabupaten Karo yang sampai masuk bui. Hanya gara-gara dituntut jaksa bahwa tak ada harga untuk pekerjaan konsep/ide, editing, dubbing yang sudah dilakukan. Alias gratis menurut jaksanya. Sehingga menurut jaksa, sang videografer dituntut melakukan markup.

Bukannya saya anti pemberantasan korupsi. Saya dukung korupsi disikat sampai habis di negeri ini. Tapi ya masuk akal. Masak usaha seperti itu tak dihargai. Dianggap gratisan saja. Alias kerja bakti.

Padahal proses kreatif itu butuh pikiran, tenaga, ilmu dan pengalaman yang lama. Juga butuh biaya untuk listrik, komputer, makan, camilan, dll.

Kalau memang dianggap mahal, ya ditolak saja harganya sejak awal saat marketing. Cari vendor yang mau. Kan selalu ada segmen. Tapi peribahasa Jawa, "onok rego onok rupo".

Entah, kalau sejak awal bilang bahwa ini adalah proyek sosial. Harganya cuma 3 M. Makasih, makasih, makasih. [TSA, 31/3/2026 bakda dhuhur]

~~~

*Mochamad Yusuf adalah pengajar, pembicara publik, host radio, sekaligus praktisi digital marketing di Enerlife Solusi Indonesia. Pengalaman digitalnya sejak 1997. Aktif menulis dan beberapa bukunya telah terbit. Anda dapat mengikuti aktivitasnya di Facebooknya, https://www.facebook.com/mochyusuf dan channel Youtube-nya, https://s.id/enerlifeid

Related Posts

Komentar

  1. Update terbaru (2/4/2026), Amsal Sitepu diputus bebas murni. Tapi Amsal tetap gak diganti kerugian karena material dan non materail seperti dipenjara.

    BalasHapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah hadir di website kami, Enerlife Solusi Indonesia. Kami akan merespon komentar Anda secepatnya.