Pengalaman Terkena Sakit Lumpuh Layu GBS (1): Awalnya Dokter Hanya Menyangka Kecapekan
EnerLife singkatan dari "Energize Your Life" atau "Energy of Our Life". Enerlife berisi tulisan dan video motivasi yang bermaksud mencerahkan pikiran dan hati. Serta motivasi kesuksesan hidup. Harapannya hidup kita menjadi mulia dan bermanfaat bagi semesta. Artikelnya bisa dibaca di blog ini: http://enerlifeid.blogspot.com dan videonya dapat dilihat di sini: https://s.id/enerlifeid.

Bersama Rusdi Arief, penggagas acara ini
Saya merasa kurang khusyuk, karena diri saya merasa najis. Entah berapa kali sejak mulai mendaki itu, saya pipis sembarangan. Dan setelah pipis, saya tidak merasa membersihkan dengan benar.
Oleh: Mochamad Yusuf*
Mengapa pendakian gunung ke Penanggungan ini saya lakukan? Padahal usia saya sudah tidak muda lagi. Juga karena sudah lama saya tidak melakukan hal ini.
Mungkin itu semata karena saya ingin mendapat sebuah pengalaman baru. Sebuah kegiatan yang 'totally different'.
Mengapa?
Ya, karena penggagas acara ini saya kenal bukanlah seorang yang dulunya pecinta alam. Seseorang yang malah saya kenal aktif dalam kegiatan keagamaan. Bahkan sampai sekarang. Karena itu saya bayangkan ada kegiatan keagamaan dalam pendakian itu.
Meski itu tidak benar, tidak ada kegiatan keagamaan dalam acara pendakian itu, dia melakukannya sendiri. Sebuah acara yang bisa dibilang keagamaan juga. Tapi tidak dipaksakan dan dikerjakan bareng.
Setelah sampai di puncak gunung, semuanya pada tidur. Beristirahat. Memulihkan tenaga untuk kembali turun esoknya. Tapi dia melakukan shalat malam. Lama dia melakukannya.
Saat dia shalat, saya menimbang-nimbang. Melakukannya juga atau tidak seperti dia.
Tapi ternyata saya memutuskan untuk tetap tidur. Saya ternyata saya belum sanggup memberi warna lain dalam kegiatan seperti ini.
Meski begitu, saya melakukan shalat Subuh. Dan ternyata tetap susah. Saya tahu saya tidak khusyuk melakukannya. Tapi saya tetap senang. Karena saya telah memberi warna baru dalam hidup. Melakukan shalat di puncak gunung!
Saya merasa kurang khusyuk, karena diri saya merasa najis. Entah berapa kali sejak mulai mendaki itu, saya pipis sembarangan. Dan setelah pipis, saya tidak merasa membersihkan dengan benar. Harusnya saya membawa tisu basah untuk 'cebok' setelah pipis.
Kedua, saya merasa kurang sreg dengan wudhu gaya tayammum ini. Yakni berwudhu dengan menggunakan embun yang melekat di daun-daun.
Tapi entahlah... Sepenuhnya saya serahkan pada Tuhan untuk menilai ibadah shalat Subuh saya ini.
~~~
Pelajaran ketiga:
Bawalah tisu basah kalau mendaki gunung. Hehehe. [Pare, 24/12/2012 bakda Maghrib, ditulis menggunakan tablet]
Yang penting perjalanannya. Puncak adalah bonus.
BalasHapus