Pengalaman Terkena Sakit Lumpuh Layu GBS (1): Awalnya Dokter Hanya Menyangka Kecapekan
EnerLife singkatan dari "Energize Your Life" atau "Energy of Our Life". Enerlife berisi tulisan dan video motivasi yang bermaksud mencerahkan pikiran dan hati. Serta motivasi kesuksesan hidup. Harapannya hidup kita menjadi mulia dan bermanfaat bagi semesta. Artikelnya bisa dibaca di blog ini: http://enerlifeid.blogspot.com dan videonya dapat dilihat di sini: https://s.id/enerlifeid.
Oleh: Mochamad Yusuf*
Perawakannya masih muda. Usianya belum 40. Bahkan saya menebak sekitar 35-an. Namun rambutnya sudah dipenuhi dengan uban. Tapi secara selintas tak begitu dikenali banyak ubannya, karena potongan rambutnya yang sering gundul.
Orang-orang terkecoh usianya mungkin perawakan badannya: perut tambun. Jadi makin kelihatan karena tinggi badannya yang pendek. Tapi raut wajahnya tak ada rasa stres atau tegang apapun. Tenang. Tak seperti wajah businessman lainnya.
Ya, dia memang pengusaha.
Meski masih muda, jangan anggap dia sebagai pengusaha kemarin sore. Dia mulai berbisnis sejak lulus SMA. Sebenarnya dia terpaksa melakukan hal ini, karena dia sudah menikah di kelas 1 SMA.
Bila teman-temannya yang lain selulus SMA mencari perguruan tinggi untuk kuliah, dia malah bekerja. Awalnya dia bekerja pada orang lain. Tapi kelak dia melakukan usaha sendiri. Dan kemudian berhasil.
Ada beberapa perusahaan yang dimilikinya. Yang utama adalah percetakan dan periklanan. Beberapa perusahaan besar termasuk perusahaan multinasional telah menjadi kliennya. Cukuplah untuk menggerakkan perusahaan dan memasukkan uang ke pundi-pundinya.
Saya mengenalnya sebagai klien saya. Selama menangani proyeknya, saya mulai berkenalan dan memahami bagaimana latar belakangnya. Selama itu saya sering mengobrol berbagai hal. Tapi saya tak berani sampai begitu dalam menanyakan ini-itu.
Sampai suatu ketika dia mengajak makan siang. Sungguh kejutan, ternyata dia mengajak istri dan ponakannya. Anaknya tak diajak, karena kuliah. Ya, karena anaknya lahir saat dia masih kelas 1 SMA, sehingga meski semuda itu anaknya sudah kuliah.
Setelah makan-makan dia mengajak duduk-duduk di taman. Istri dan ponakan mulai main bola. Seperti sudah disiapkan, karena bolanya diambil dari mobil. Saya mengatakan 'iri' melihat hal ini. Di usia itu dia seperti sudah pensiun.
"Bisnis sudah jalan. Anak kuliah bahkan mau lulus. Padahal dia anak satu-satunya. Jadi bagaimana lagi? Jadi saya dan istri seperti pacaran lagi. Kadang-kadang jalan mencari makan siang. Atau mengajak ponakan main ke tempat umum seperti ini," katanya menjawab keirian saya.
"Sungguh enak suasana seperti ini ya?" saya menimpali. Dia menghela napas dan diam. Lama.
"Suatu waktu dalam perjalanan bisnisku, saya mengalami sebuah kejadian yang berat. Saya ditipu oleh seseorang. Uang saya dibawa lari, bahkan saya masih ditagih orang-orang karena dia mengutang atas nama saya. Sungguh sangat berat, karena selain masih muda, modal saya juga belum banyak," dia mulai bercerita.
"Saya mencari-cari dia, akhirnya ketemu. Tapi bukannya minta maaf, tapi malah seakan tak tahu menahu dan lepas tangan. Bahkan dia akan menuntut saya bila saya macam-macam. Tapi karena masih dialiri darah muda, saya terima tantangan itu. Tapi saya malah hancur nggak karuan. Karena dia memiliki banyak kenalan yang membantu upaya kejahatan ini."
"Saya sedih. Sempat menyesal, mengapa bertemu dia dan berbisnis dengan kerjasama dengannya. Akhirnya saya meng-ikhlaskan semua hal itu. Saya anggap itu semua bukan uang saya. Saya melupakan hal itu semua, dan memulai bisnis lagi. Bahkan saya usaha lebih keras lagi. Dan akhirnya saya seperti ini. Sukses, kata orang-orang," ceritanya.
"Lalu bagaimana kabar orang yang menipu itu?" tanya saya penasaran.
"Saya sebenarnya tak peduli bagaimana kabarnya. Sampai suatu ketika saya bertemu seseorang dan bercerita tentang dia. Ternyata uang yang diperoleh itu tak menjadi rezeki yang membuatnya kaya. Mungkin uangnya harus dibagi-bagi lagi. Anak-anaknya nakal dan kerap berurusan dengan hukum. Sampai suatu ketika dia masuk penjara, karena yang ditipu lebih punya kenalan yang lebih hebat lagi."
"Saat di penjara, istrinya selingkuh karena terbiasa hidup mewah dan dia tak bisa membiayai hidup istrinya. Anak-anaknya tak peduli lagi padanya. Bahkan sepertinya sama bejatnya - pengidap narkoba, atau sebagai PSK. Di penjara dia mulai sakit-sakitan akhirnya meninggal. Tanpa membawa harta. Tak ditangisi istri dan anak-anak."
"Sungguh saya sedih mendengar berita ini. Meski saya marah bahkan dendam dengannya, setelah mendengar cerita ini ingin rasanya bertandang ke penjara untuk menjenguknya. Sayang dia sudah meninggal."
"Ternyata harta saya meski dikurangi, tak berkurang. Sedangkan dia mengejar keras hartanya, dia malah berkurang hartanya. Harta bisa saja mendatangkan kebahagiaan tapi bisa juga mendatangkan malapetaka. Yang penting adalah sumber rezekinya. Dari jalan yang benar atau tidak," katanya mengakhiri ceritanya.
Saya terdiam. Dan menikmati cerita ini sebagai tambahan pelajaran tentang rezeki. [TSA, 31/10/2010 malam]
[Update terakhir (17/4/2026]: Yang saya salut padanya, semangat berusahanya. Luar biasa. Mungkin karena jiwa entrepreneur sejak masih muda, sehingga tetap gigih berbisnis.
BalasHapus