Pengalaman Terkena Sakit Lumpuh Layu GBS (1): Awalnya Dokter Hanya Menyangka Kecapekan
EnerLife singkatan dari "Energize Your Life" atau "Energy of Our Life". Enerlife berisi tulisan dan video motivasi yang bermaksud mencerahkan pikiran dan hati. Serta motivasi kesuksesan hidup. Harapannya hidup kita menjadi mulia dan bermanfaat bagi semesta. Artikelnya bisa dibaca di blog ini: http://enerlifeid.blogspot.com dan videonya dapat dilihat di sini: https://s.id/enerlifeid.
Oleh: Mochamad Yusuf*
Keraguan dimulai dari tidak adanya konsep yang jelas. Tidak adanya arah yang mantap. Berarti tidak mempunyai tujuan pasti. Seperti kapal yang berlayar di tengah samudra bila tidak mempunyai tujuan, bisa-bisa selamanya ada di lautan. Alias menjadi makanan hiu.
Tidak adanya arah ini karena landasan hidup yang kurang kuat. Dengan kata lain, landasan agama yang masih goyah. Karenanya tujuan hidup juga masih gamang.
Bila landasan agamanya mantap akan terbentuk landasan hidup yang mantap. Lalu mempunyai tujuan hidup yang mantap pula. Bila mempunyai tujuan hidup yang jelas, dia tahu apa yang harus dilakukan dan tidak. Akhirnya terbentuk semangat hidup yang terus menyala. Sikap optimisme.
Dalam Islam, tujuan hidup itu jelas. Tujuannya yakni beribadah. Artinya tujuan hidup seorang manusia semata-mata untuk menyembah kepada Allah SWT. Jadi semua kegiatan yang kita lakukan semata-mata karena ikhlas demi Allah SWT dan kebaikan sesama manusia.
Dalam kehidupan sehari-hari, misalnya masalah bekerja. Bekerja pada dasarnya adalah nafkah. Yakni mencari uang untuk penghidupan. Uang untuk mencukupi kebutuhan hidup.
Namun bekerja menurut Islam, bukanlah semata-mata untuk nafkah, tapi juga beribadah. Uang memang penting, tapi bukanlah segala-galanya. Uang bukanlah satu-satunya yang harus dikejar dalam ibadah.
Kalau uang menjadi tujuan, bila tak mencapainya akan timbul perasaan putus asa, kekecewaan bahkan frustasi. Bila hal ini timbul, akan muncul pertanyaan pada Allah, bahwa Allah tidak adil.
Padahal hal ini adalah pantangan. Jangan sampai kita punya pertanyaan seperti ini. Akibat lain adalah keputus-asaan. Sikap skeptisme akan muncul. Padahal ini adalah akar dari tabiat buruk lainnya - iri, cemburu, dengki dan dendam.
Sebaliknya, bila bekerja karena ibadah, sikap optimisme terjaga yang terus memelihara semangat hidup. Apapun yang terjadi, dia takkan mengeluh. Karena dia tahu hal ini semua karena kehendak-Nya. Semangat yang membara mendorong tetap terus berusaha dan bekerja. Masalah hasil diserahkan sepenuhnya pada Allah.
Meski bekerja demi ibadah kelihatan tidak berorientasi pada duniawi (uang), tapi pada gilirannya akan kesitu juga. Karena semangat yang menyala membuat rajin bekerja. Etos kerja yang bagus. Akhirnya akan menghasilkan uang juga.
Jadi bekerja demi ibadah selain mendapat pahala yang gilirannya adalah tujuan 'jangka panjang', juga berdampak pada uang. Tetapi tidak, bila bekerja semata-mata demi uang. Uang didapat, tetapi pahala pasti tidak akan didapat. Malahan bisa uang juga tidak didapat pula.
Terakhir, hal inilah yang membedakan Islam dengan yang lain. [BRAWET, 25/12/1995]
Seperti pertanyaan: Bekerja untuk hidup atau Hidup untuk bekerja?
BalasHapus