Pengalaman Terkena Sakit Lumpuh Layu GBS (1): Awalnya Dokter Hanya Menyangka Kecapekan
EnerLife singkatan dari "Energize Your Life" atau "Energy of Our Life". Enerlife berisi tulisan dan video motivasi yang bermaksud mencerahkan pikiran dan hati. Serta motivasi kesuksesan hidup. Harapannya hidup kita menjadi mulia dan bermanfaat bagi semesta. Artikelnya bisa dibaca di blog ini: http://enerlifeid.blogspot.com dan videonya dapat dilihat di sini: https://s.id/enerlifeid.
Oleh: Mochamad Yusuf*
Waktu kerja di SCTV dulu, ada ruang favorit bagi saya. Yakni kantin. Di tempat ini saya biasanya mencari ide dengan berdiskusi dengan teman-teman. Tentu sambil ngopi atau minum minuman lain. Selain itu tentu saja juga karena sebagai tempat makan.
Tapi meski makan di situ, saya bawa makanan dari rumah. Paling-paling hanya beli krupuk dan minuman tehnya. Tapi kadang di sore hari saat perut sudah lapar, saya pesan makanan juga. Biasanya mie instan.
Ini sebenarnya aneh. Karena kantin ini sebenarnya dikelola oleh restoran terkenal: Mbok Berek. Restoran ini dikenal sebagai penyedia makanan Jawa Tengah seperti Gudeg, Ayam Bakar, Ayam Kremes dan lainnya. Tapi justru yang laku adalah mie instannya.
Saya bersyukur dengan hal ini, karena saya bisa menikmati makanan enak dengan mudah tanpa harus datang ke restoran mereka yang telah tersebar di Surabaya. Tapi saat tertentu saya juga kadang datang ke tempat mereka. Biasanya saat-saat ada acara istimewa misal: ulang tahun, syukuran, perpisahan dan lainnya.
Tentu saja dengan mengadakan acara di restoran Mbok Berek ada gengsi tersendiri. Yang datang demikian juga, ikut bergengsi bila datang. Sehingga melihat restorannya tak pernah sepi parkirannya.
Hampir seperti Mbok Berek adalah Ayam Goreng Suharti. Menunya hampir sama: masakan Jawa Tengah. Jadi kita bisa menemukan Gudeg, Ayam Bakar dan Ayam Kremes. Restorannya tak pernah sepi dari pengunjung. Selain pengunjung reguler, sering restoran digunakan untuk meeting, atau memperingati berbagai perayaan.
Tapi tahun-tahun terakhir kedua restoran ini sepi, khususnya Mbok Berek. Saya dengar pengelolaannya pecah, tak bersatu lagi. Yang prihatin adalah di Ayam Goreng Suharti.
Awalnya restoran ini dikelola suami istri. Nama istri digunakan sebagai nama restoran. Ketika awal, mereka bersatu padu untuk membangun bisnis. Kerja keras, gigih dan ulet mensiasati berbagai rintangan yang datang. Akhirnya sukses.
Namun godaan muncul. Sang suami kecantol wanita lain, sehingga menikahinya. Sang istri tidak terima, mereka bercerai. Bercerai pula bisnisnya. Keduanya tetap meneruskan restoran ini meski menggunakan nama yang sama: Suharti. Hanya berbeda pada logonya. Yang satu pakai gambar Ayam, yang satu gambar wanita, ibu Suhartinya.
Mereka mempertahankan semua hal pada aslinya. Namun lambat laun pengunjungnya berkurang. Padahal menunya tetap, rasanya sama bahkan restorannya tetap. Semua itu takkan menahan laju penurunan pengunjungnya.
Saya merenung. Apa dulu saat mereka di masa jaya, timbul ada rasa tamak: mengapa harus bekerja sama dengan lain? Bukankah kesuksesan itu aslinya dari saya individu? Sehingga dia secara serakah mau menguasai sendiri? Alih-alih sukses, tapi malah gagal yang didapat.
Dalam kehidupan kadang rezeki tak bisa datang bila diusahakan sendiri. Tapi harus berdua atau bekerjasama dengan yang lain. Yang satu yang bekerja keras, yang lain hanya membantu. Tapi bisa saja karena bantuan ini, terutama doa, kesuksesan itu datang.
Jadi janganlah sombong mengaku kesuksesan itu datang karena hasil individu ketika melakukan secara bersama. Yang lain meski andilnya tak banyak, tapi bisa saja yang membawa rezeki. [TSA, 31/10/2010 malam]
Kalau saya baca kasus-kasus yang mirip, nyaris memang seperti itu. Salah satu pihak merasa lebih berjasa, sehingga PD untuk berdiri sendiri. Ternyata bukan malah maju, minimal tetap, malah mundur. Ini rahasia rezeki lain..
BalasHapus