Pengalaman Terkena Sakit Lumpuh Layu GBS (1): Awalnya Dokter Hanya Menyangka Kecapekan
EnerLife singkatan dari "Energize Your Life" atau "Energy of Our Life". Enerlife berisi tulisan dan video motivasi yang bermaksud mencerahkan pikiran dan hati. Serta motivasi kesuksesan hidup. Harapannya hidup kita menjadi mulia dan bermanfaat bagi semesta. Artikelnya bisa dibaca di blog ini: http://enerlifeid.blogspot.com dan videonya dapat dilihat di sini: https://s.id/enerlifeid.
Oleh: Mochamad Yusuf*
Luar biasa malam 21 Ramadhan ini! Halaman Masjid Agung Surabaya parkirnya penuh, sampai meluber keluar. Shalat Jumat saja tidak seperti ini. Hanya kalah saja dengan Shalat Ied. Apakah ini pertanda baik ?
Tak terasa Ramadhan sudah menginjak 10 hari terakhir. Saya tak menyadari sampai Ibu memberitahu hal ini, ketika pulang kantor mampir ke rumah Ibu sabtu kemarin. Jadi saatnya berburu malam Lailatul Qadar nih. Dan biasanya saya lakukan di Masjid Agung Surabaya.
Sudah beberapa tahun ini saya melakukan itikaf di Masjid Agung. Sebelumnya saya hanya lakukan di sekitar rumah. Namun sejak mengikuti training shalat khusyuk pas saya datang di malam 'likuran' (malam ganjil sepuluh hari terakhir: 21, 23, 25, 27, 29) beberapa tahun lalu, saya akhirnya keterusan melakukannya di sana. Malam 'likuran' ini dalam beberapa hadits dikatakan kemungkinan besar datangnya malam Lailatul Qadar.
Saya hanya absen tahun lalu, karena saya lumpuh total seluruh badan.
Berangkat dari rumah jam 00.45. Saya perkirakan tiba di sana jam 01.00. Nggak lama, karena memang nggak jauh, sekitar 5 km saja.
Namun alangkah trkejutnya saya! Halaman parkir sudah penuh. Saya memang membawa mobil. Tapi biasanya masih cukup kok, karena parkirnya cukup luas. Masjid yang dibangun di atas tanah sekitar 5 Ha ini, punya parkir mobil sekeliling masjid. Sedang parkir motor hanya di sebelah sisi kanan masjid, dekat pintu masuk utama. Akhirnya saya parkir di halaman luar.
Ketika saya masuk ke halaman dalam, saya lebih ternganga lagi. Parkir motornya penuh. Mata memandang motor di mana-mana. Hanya pohon-pohon saja yang menyaingi. Saya tak tahu parkiran mobil, karena parkir mobil di belakang masjid, jadi tak terlihat. Tapi pasti juga penuh karena saya tak bisa parkir di sana kan ?
Sambil terus menapak tangga, saya lihat banyak sekali jamaah yang datang. Tua muda, laki-laki perempuan, ada yang datang sendiri, berdua bahkan rombongan. Alhamdulillah, ucap saya dalam hati. Saya beryukur karena kesadaran umat Islam berburu malam Lailatul Qadar semakin tinggi. Berarti kesadaran beragama mulai meningkat.
Saya jadi ingat waktu sekolah dasar dulu. Sering mau itikaf, masjid terkunci. Harus bangunkan takmir dan menjelaskan keperluannya dulu. Atau cari masjid lain yang membuka untuk itikaf. Bahkan sampai dewasa punya 2 anak ini, saya masih harus putar-putar cari masjid yang buka. Memang di Masjid Agung ini dari tahun ke tahun semakin banyak yang melakukan itikaf. Tapi seingat saya tetaplah tidaklah sepenuh ini.
Namun, dari hati paling dalam saya merasa miris. Ada apa?
Saya teringat dengan posternya Zidan yang dibuat menyambut Ramadhan tahun ini. Waktu itu Zidan meminta bantuan membuat poster karena ada pawai sekolah menyambut Ramadhan. Ada usulan dari Zidan untuk membuat kalimat 'Marhaban Ya Ramadhan'. Mamanya mengusulkan kalimat 'Mari kita tingkatkan iman dan taqwa kita di bulan suci Ramadhan'.
Saya pikir-pikir. "Ah kuno Zidan, dari dulu ya begitu-begitu," kata saya. Dari sejak saya sekolah SD kata-kata itu sering terdengar. Indah didengar, indah pula ditempel atau digantung di dinding. Namun tak bergaung dan tak bermakna. Juga terasa kosong.
"Kita harus jujur Zidan," kata saya. Memang biasanya kalau jujur akan menyakitkan. Akhirnya saya temukan ide untuk membuat kalimat. Saya buat 2 versi. Versi 1 kalimatnya berbunyi 'Nggak ada artinya haji, kalau masih korupsi'. Dan 'Jangan shalat kalau masih korupsi. Malu-maluin tahu', untuk versi 2.
Tentu saja Zidan dan mamanya protes. Zidan malah tanya korupsi itu apa. Dia tak tahu kata korupsi. "Kayak demonya mahasiswa saja," kata mamanya.
Ya, ide itu seperti terlintas begitu saja. Mungkin karena saya prihatin melihat kondisi masyarakat terakhir-terakhir ini. Banyak orang penting - pejabat, anggota DPR, jaksa dan lainya terlibat korupsi. Apakah mereka tidak tahu korupsi salah? Tidak.
Bahkan kebanyakan mereka alim dari keluarga baik-baik, seperti Al Amin (ibunya memiliki pondok pesantren sampai bersumpah bahwa tidak mungkin anaknya melakukan hal itu). Atau berdedikasi dan berprestasi seperti jaksa Urip. Atau aktivis Islam seperti M. Iqbal dalam kasus suap Liga Inggris. Bahkan pejabat di Riau adalah pimpinan pondok pesantren yang cukup besar di sana.
Apakah mereka sholat? Saya yakin iya. Bahkan saya yakin mereka melakukan Zakat dan Haji. Mereka tentu saja fasih berceramah tentang moral. M. Iqbal dikenal sebagai orang yang sederhana dan alim. Namun kenapa mereka melakukan korupsi juga?
Karena mereka masih memisahkan antara agama dan kehidupan. Agama menurut mereka hanyalah shalat, puasa, zakat atau haji. Di luar itu itu bukan. Jadi shalat yes, korupsi yes!
Semangat menunaikan ibadah semakin tinggi dan terlihat. Yang pakai jilbab semakin banyak (saya ingat waktu SMA, yang pakai jilbab hanya 1 orang di kelas). Sekolah Islam terpadu semakin banyak. Nilai zakat dari tahun ke tahun semakin meningkat. Yang naik haji semakin jauh indennya.
Namun kenapa korupsi makin subur? Dari tahun ke tahun kita masih memegang supremasi negara paling korup. Saya juga yakin pelakunya ya kaum muslim, wong penduduk terbesar Indonesia memang kaum muslim.
Inilah yang saya bikin miris. Islam hanya dianggap sebagai hanya sekedar hubungan dengan Allah. Dengan manusia tidak ada urusan dengan agama. Contoh lain kasus aktual di Pasuruan. Meski sudah 4 korban berjatuhan, bagi zakat tetap dijalankan. Di mana hati nuraninya? Ketika dihentikan oleh polisi, korbannya menjadi 21. Kalau tidak dihentikan, saya yakin korbannya lebih banyak. Wong yang bagi zakat tidak peduli kok, jalan terus bagi-bagi zakatnya.
Adakah yang salah di sini?
Saya tak tahu di mana salahnya. Mungkin saja sekolahnya, tidak menanamkan kejujuran sejak kecil. Sekolah hanya masih melihat hasil, proses tidak dinilai. Jadinya nilai yang penting, meski harus mencontek. Atau para ulamanya, yang terlalu asyik main politik, lupa untuk selalu mengingatkan jamaahnya. Entahlah, saya tak tahu jawaban yang benar.
Tapi yang jelas, saya tak akan mencari siapa-siapa yang salah. Saya akan mengubah dari diri sendiri. Saya harus lalukan mulai dari lingkungan yang kecil, seperti keluarga saya. Poster itu kesempatan bagi saya untuk mengajarkan ke Zidan tentang pentingnya kejujuran.
Saya juga jelaskan, Islam adalah aturan yang menyeluruh bagi semua aspek kehidupan. Kita tidak boleh menjalankan aturan yang kita sukai dan tidak melakukan yang tidak kita sukai. Suka atau tidak, senang atau susah kalau sudah aturan agamanya seperti itu, ya harus kita lakukan.
Di malam 21 Ramahan itu, sekali lagi saya termangu menatap kerumunan jamaah masjid agung. Saya berdoa semoga jamaah itu benar-benar menjalankan agama secara menyeluruh. Tidak sekedar mencari malam Lailatul Qadar, namun tidak peduli bahkan merugikan kepentingan manusia lain. Amin Ya Rabballalamiin. [TSA, 24/9/2008 bakda Subuh]
Update terbaru: keprihatinan saya sepertinya masih berkelanjutan. Korupsi masih merajelala, tapi ghirah (semangat) bergama juga semakin tinggi. Entahlah bagaimana solusinya..
BalasHapus