Postingan

FEATURES

Kenikmatan Kebersamaan Makan Gorengan

Gambar
Kadang di hari tertentu, misal hari Sabtu dan Ahad, ada sesuatu istimewa di pagi hari. Yakni sarapan bareng dengan gorengan. Atau kadang sore. Tapi gorengannya Frozen Food. Hari Sabtu dan Ahad biasanya kita olahraga. Maka sarapannya agak molor. Untuk itu sementara sarapannya dengan gorengan. Kenyangnya hampir sama. Hehehe. Namun juga tidak hanya hari itu saja. Kalau ada rezeki, saya juga beli gorengan untuk hari lain. Sungguh nikmat kalau dilakukan secara bersama. Khususnya saya syukuri saat anak-anak masih di rumah. Zidan, anak sulung saya, harusnya kuliah jauh dari rumah. Di Tangerang sana. Di Curug. Yakni Politeknik Penerbangan Indonesia. Sebuah sekolah kedinasan transportasi udara di bawah Kementerian Perhubungan. Sedang adiknya, Zelda, juga sekolah jauh dari rumah. Di Ngawi. Yakni Pondok Modern Darussalam Gontor Putri 1. Tapi dia sudah kembali ke kampus beberapa waktu lalu. Meski liburnya sempat molor, karena tertunda-tunda kembali ke pondok. Maka normalnya kami hanya berdua di ru...

Mencari Kekhusyukan Shalat yang Hilang

Gambar
Setiap muslim pasti shalat. Dan dilarang untuk melalaikan shalat. Karena shalat adalah pondasi agama. Dan shalatlah yang akan jadi indikator penilaian kita saat di hari pengadilan kelak. Barangsiapa shalatnya baik, baik juga amalan lain. Oleh: M. Yusuf* Namun meski shalat dilakukan tiap hari, apakah sudah benar shalat kita? Apakah ada upaya bagaimana membuat shalat kita menjadi benar? Shalat benar seringkali memunculkan kekhusyukan di hati kita. Karena itu takmir masjid Shalahuddin Perumahan Puri Surya Jaya mengundang penulis Abu Sangkan untuk memberi pelatihan bagaimana shalat yang khusyuk. Pelatihan dilakukan Minggu tadi, 13 November 2016 mulai pukul 08.00-16.00. Abu Sangkan ini telah menulis buku mega seller "Menemukan Kekhusyukan yang Hilang." Saat mendapat informasi pelatihan ini seminggu sebelumnya, tentu saya senang. Apalagi ini gratis langsung praktek. Padahal fasilitasnya tidak kalah dengan seminar yang harganya ratusan ribu sampai jutaan, karena juga disediakan snac...

Apa yang Kamu Cari di Gontor (1): Mengapa Saya Memasukkan Anak Saya ke Gontor (versi singkat)

Gambar
Banyak pertanyaan ke saya, mengapa menyekolahkan Zelda, putri saya, ke Gontor. Biasanya saya jawab dengan senyuman saja. Entahlah apa yang menjadi alasan saya. Wong saya dan istri sejak SD sampai PT di negeri. Namun kalau ditelisik lebih dalam ada beberapa alasan: Pertama, ini upaya kita sebagai orang tua memenuhi perintah Allah di QS 66:6. Ya, ini ikhtiar kami, meski tidak berarti kami tidak bertanggung jawab terhadap pendidikan anak kami. Kedua, memberi warna baru pada pengalaman hidupnya. Bertemu teman seluruh Nusantara (kebinnekaan sesungguhnya), bahkan seluruh dunia. Hidup di tempat baru, jauh dari rumahnya. Belajar hal baru, pengalaman baru, tantangan baru. Dan lainnya. Ada beberapa hal lain. Tapi 2 hal ini yang utama. Saya tahu di Gontor akan sangat berat. Karena itu saya mohon doanya agar Zelda bisa istiqamah dan ikhlas sampai menuntaskan pendidikannya di Gontor sampai selesai. Terima kasih. Salam dari GP 1, Ngawi.

Hukum Duduk Saat Tasyahud Akhir Shalat Subuh | Ceramah Bagus Ustadz Prof Dr Zainuddin MZ

Gambar
Perselisihan dalam agama adalah sesuatu yang wajar. Bukan berarti baik kalau malah membuat-membuat selisih. Namun kita kembalikan ke Al Qur'an dan Al Hadits untuk cari persamaan. Karena Allah senang apabila umatnya bersatu. "Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya." QS 4:59 Ini sebuah cerita menarik dari Prof Zainuddin MZ. Empat orang uztadz mencari titik temu tentang sesuatu hal yang mungkin dianggap remeh. Yakni saat duduk tasyahud akhir di shalat Subuh. Karena Subuh hanya 2 rakaat, maka ada perbedaan pandang apakah duduknya iftirasy atau tawarruk. Mari kita ikuti diskusi mereka melalui penuturan pakar hadits, guru besar Al Imam Mohamed Ibn Saud Is...

Memahami Hadits Secara Tekstual dan Kontekstual | Ceramah Lucu Ustadz PROF DR ZAINUDDIN MZ

Gambar
Suatu saat berkumpul beberapa ulama dalam sebuah acara. Ternyata masjidnya mengumumkan ada rencana shalat Gerhana Bulan. Seorang ulama bingung mau shalat atau tidak, karena tidak ada dalil untuk lafal niatnya. Ternyata malam itu hujan deras, sehingga tak terlihat bulan. Ulama lain ditanya apakah tetap melanjutkan niat shalat gerhana. "Lho apa nggak yakin ada gerhana malam ini?" tukasnya. "Bukan," jawab yang bertanya, "Tapi bukankah Anda berpendapat hisab itu bid'ah?" Karena hadis shalat gerhana ada kata 'melihat bulan'. "Jika kalian melihat gerhana tersebut, maka bersegeralah untuk melaksanakan shalat." (HR. Bukhari no. 1047) Lalu bagaimana akhir peristiwa ini? Mari simak penjelasan penuh humor, gamblang, detil & kronologis dari pakar hadits, guru besar Al Imam Mohamed Ibn Saud Islamic University, Riyadh, Prof. Dr. ZAINUDDIN MZ, Lc, MA tentang memahami hadits secara tekstual & kontekstual di sini: https://youtu.be/-V14pSEgFKE

Film Seakan Vlog

Gambar
Ada yang aneh saat menyaksikan film '1917'. Tidak ada cut yang berganti-ganti angle/sudut pandang kamera. Saya teringat film 'Cloverfield'. Tapi film Cloverfield itu jelas menggambarkan seorang yang amatir yang sedang merekam. Maka kadang diperlihatkan goyang, out of focus dan lainnya. Maka di film 1917 ini kita tidak menyaksikan detail sesuatu dengan cepat. Misal saat komandan menunjukkan peta, kita tidak diperlihatkan petanya secara jelas. Lama-lama saya merasa film 1917 ini seperti Vlog yang saya buat. Misal saat saya membuat Vlog keliling memutari kampus Gontor Putri 1 (cari videonya di channel saya, Enerlife Solusi Indonesia). Maka bisa jadi Vlog nanti dapat masuk ke bioskop. Hehehe..

3 Cara Mendapatkan Rahmat Allah - Ada Dzikir agar Hidup Sukses | Ceramah Lucu KH ATIQUDDIN MUSTAWA

Gambar
Rasulullah bersabda, "Tidak ada amalan seorangpun yang bisa memasukkannya ke dalam surga, dan menyelematkannya dari neraka. Tidak juga denganku, kecuali dengan rahmat dari Allah" (HR. Muslim no. 2817). Maka peran rahmat Allah sangatlah penting untuk meraih surga. Meski tidak menafikan amal shalih yang harus dilakukan selama di dunia. Maka untuk mencapai surga selain meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadah kita, juga perlu upaya untuk mendapatkan rahmat Allah. Ada 3 cara menurut KH M. Atiquddin Mustawa yang bisa dilakukan untuk meraih rahmat Allah. Termasuk dzikir-dzikir yang bisa dirutinkan. Mari kita simak kajian pengasuh Pondok Pesantren An-Nidhomiyah, Ngelom, Sidoarjo dan juga ketua MUI Taman di sini. https://youtu.be/iTh-7KxaLco

Lemantun | Sebuah Renungan Bagi Anak dan Orang Tua

Gambar
Hidup itu pilihan. Dan pilihannya kadang sulit. Seperti saat kecil kita bersama dengan ibu dan bapak (keluarga). Saat mulai dewasa, biasanya mulai kuliah, sudah meninggalkan keluarga. Oleh: Mochamad Yusuf * Setelah lulus kadang tidak kembali ke keluarga. Malah jauh ke kota besar untuk cari penghidupan. Bahkan ketemu pasangan akhirnya menetap di sana. Jadinya bertemu keluarga jarang-jarang. Kadang hanya sekali setahun saat lebaran. Di lain pihak, ibu dan bapak semakin menua. Fisik berkurang. Dan tidak bekerja. Malah sakit-sakitan. Tentu butuh yang merawat. Seperti kita saat masih kecil juga perlu dirawat keluarga. Kini gantian mereka yang butuh kita. Seperti dulu saat kecil kita butuh mereka. Tapi kita tidak ada di samping mereka. Saya pernah ke rumah teman di desa. Hanya Bapaknya. Ibunya sudah meninggal. Rumah yang besar itu, 8 bersaudara, tidak ada satu pun yang tinggal di rumah itu. Padahal ya ampun rumahnya besar sekali. Dapurnya saja jadi rumah tersendiri. Setara tipe 45. Ruang mak...

Saat Ini Semua Pelaku Pendidikan Berat.. (Mungkin Hanya Pesantren Yang Belum)

Gambar
Miris mendengarkan berita seorang Ibu yang harus menghukum keras anaknya gara-gara tidak mau sekolah daring. Anaknya tersebut masih duduk kelas 1 SD. Karena pukulan bertubi-tubi dengan gagang sapu maka akhirnya sang anak meninggal dunia. Oleh: Mochamad Yusuf* Sedih. Berita ini sepertinya puncak dari berbagai kisah nestapa tentang sekolah daring. Sebelumnya dikabarkan banyak anak sampai jadi penjual koran, penjual jajanan sampai kerja sebagai tukang batu. Semua dilakukan hanya ingin memiliki HP dan pulsa. Semoga berita kematian di Tangerang itu akhir dari sisi negatif sekolah daring. Tidak ada lagi berita-berita sedih tentang hal ini. Memang sekolah daring tidak enak. Semua ingin kembali ke kelas. Menuntut ilmu sambil bercengkerama dengan teman-teman. Tapi kondisi pandemi belum memungkinkan. Malah situasinya seperti memburuk. Semakin banyak yang terjangkit Covid-19 dan meninggal karenanya. Tidak ada yang mau kondisi seperti ini. Mahasiswa saya saja (jauh dari kondisi SD kelas 1 tersebut...

Apa yang Kamu Cari di Gontor (1): Mengapa Saya Memasukkan Anak Saya ke Gontor

Gambar
Banyak pertanyaan ke saya, mengapa menyekolahkan Zelda, putri saya yang lulus SD, ke Gontor. Biasanya saya jawab dengan senyuman saja. Entahlah, apa yang menjadi alasan saya. Wong saya dan istri sejak SD sampai PT di negeri. Pekerjaan saya selama ini juga tidak terkait dengan pondok. Namun kalau ditelisik lebih dalam adalah beberapa alasan: Pertama, ini upaya kita sebagai orang tua memenuhi perintah Allah di QS 66:6. Ya, ini ikhtiar kami, meski tidak berarti kami tidak bertanggung jawab terhadap pendidikan anak kami. Kedua, memberi warna baru pada pengalaman hidupnya. Bertemu teman seluruh Nusantara (memahami kebinnekaan sesungguhnya), bahkan dari seluruh dunia. Hidup di tempat baru, jauh dari rumahnya. Belajar hal baru. Mendapat pengalaman baru. Mendapat tantangan baru. Dan lainnya. Ketiga, tantangan mendidik anak sekarang tidak mudah. Adanya internet dan gadget, menjadi godaan negatif yang luar biasa. Menyekolahkan di Gontor, minimal bisa mengkonsentrasikan hidupnya agar lebih fokus ...