Postingan

FEATURES

Enerlife [6]: Mematok Target Lebih Tinggi

Gambar
(ref: sxc.hu) Mendengar komentar saya ini gurunya malah menimpali, "Zidan, kenapa tidak sekalian semua pelajaran kamu target nilai sempurna? Sepuluh semua?" Pertanyaan ini sungguh menghentak saya. Ya. Kenapa tidak? Oleh: Mochamad Yusuf * Dalam periode tertentu sekolahnya Zidan, anak pertama saya, mengundang orang tua mendiskusikan perkembangan sang siswa. Saat pertemuan ini siswa (sang anak) juga harus datang. Tiga pihak: anak, guru dan orang tua akan membahas masalah apa yang dihadapi anak dan dicarikan solusinya. Biasanya pertemuan ini diawali dengan presentasi anak tentang kemampuan yang dimiliki dan rencana-rencananya ke depan. Pertemuan terakhir agak berbeda. Zidan yang sekarang duduk di kelas 6 mempresentasikan rencana-rencananya dalam menghadapi UNAS. Juga target sekolah mana yang ingin dimasuki selulus SD. Dalam presentasinya itu, dia mentargetkan nilai UNAS untuk Matematika: 9,5, Bahasa Indonesia: 9,5 dan IPA: 10. Total: 28. Melihat hal ini, saya mengusulkan ke Zida...

Enerlife [5]: Kebaikan Dibalas Dengan Kejahatan?

Gambar
(ref: sxc.hu) Tapi bagaimana kita tahu tujuan mereka baik atau buruk? Dengan perasaan dan nalar. Tapi kalaupun tidak ada kesangsian pada kita, kita wajib menolong. Setelah menolong, kita lepas tanggung jawabnya ke Tuhan. Bahwa kita melakukan hal ini karena ingin menolong. Oleh: Mochamad Yusuf * Dahulu kala saat manusia dan hewan bisa berkomunikasi, tinggallah seorang petani yang jujur. Teramat jujur malah. Orang sekarang menamakan sebagai naif. Dia berprinsip bahwa kebaikan selalu dibalas dengan kebaikan. Entah itu langsung atau tidak langsung, sekarang atau nanti, cepat atau lambat. Pada suatu hari dia pergi ke hutan mencari kayu bakar. Saat sedang asyik mencari ranting yang bisa dibawa pulang, dia mendengar suara. "Tolong, tolong." Petani mencari suara ke sana ke mari. Tapi tidak terlihat seorang/seekor makhluk hidup sekalipun. Dia tetap meneruskan pekerjaan. Namun suara itu muncul. Bahkan lebih keras. Sekarang dia lebih menajamkan penglihatannya. Tetap tidak ada. "Ap...

Enerlife [5]: Air Susu Dibalas Air Tuba

Gambar
(ref: sxc.hu) Dahulu kala saat manusia dan hewan bisa berkomunikasi, tinggallah seorang petani yang jujur. Teramat jujur malah. Orang sekarang menamakan sebagai naif. Dia berprinsip bahwa kebaikan selalu dibalas dengan kebaikan. Entah itu langsung atau tidak langsung, sekarang atau nanti, cepat atau lambat. Oleh: Mochamad Yusuf * Pada suatu hari dia pergi ke hutan mencari kayu bakar. Saat sedang asyik mencari ranting yang bisa dibawa pulang, dia mendengar suara. "Tolong, tolong." Petani mencari suara ke sana ke mari. Tapi tidak terlihat seorang/seekor makhluk hidup sekalipun. Dia tetap meneruskan pekerjaan. Namun suara itu muncul. Bahkan lebih keras. Sekarang dia lebih menajamkan penglihatannya. Tetap tidak ada. "Apa suara hantu?" pikir pak Tani. "Tidak mungkin," katanya. Tiba-tiba dia melihat ke bawah, terlihat seekor ular tertindih batu. Pantas tidak terlihat. Ternyata posisinya di bawah. "Tolonglah aku," kata sang ular. "Tidak," kat...

Kubah [1]: Calon Penghuni Surga 1

Gambar
(ref: sxc.hu) Rasulullah pernah ditanya seseorang. “Ya Rasulullah, apakah penghuni surga dan neraka telah diketahui?” Rasul menjawab, “Ya.” Artinya sebenarnya seseorang sudah diketahui apakah masuk surga/neraka. Oleh: Mochamad Yusuf * Kehidupan dunia adalah sementara. Dan kehidupan yang akhir dan selama-lamanya adalah akhirat. Di sana manusia hanya hidup di 2 tempat: neraka atau surga. Seperti kebanyakan manusia lain, saya tidak suka berbicara tentang neraka. Saya ingin memperbincangkan hal surga. (Ada seorang sahabat Rasulullah yang suka bertanya yang negatif-negatif dan dia mendapat pengetahuan bagaimana melihat orang yang musyrik dan munafik). Namun saya juga tidak membahas tentang bagaimana masuk surga dan apa yang menyebabkan masuk neraka. Saya kira kita sudah banyak tahu cara masuk surga dan neraka. Tiap jumat kita mendapat banyak nasehat tentang hal ini. Dan sejak kecil, kita sudah diberitahu hal ini baik oleh orang tua, di sekolah atau di masjid. Saya ingin bercerita tentang p...

Rahasia Rezeki (107): Penghambat Rezeki dari Rumah

Gambar
(dok.pribadi) Tinggal di rumah seperti ini seakan tinggal di neraka. Tidak krasan. Namun keluar dari rumah, tidak ada tempat yang pas untuk bisa melabuhkan hati dan badan. Bila demikian, rezeki semakin menjauh. Oleh: Mochamad Yusuf * Rumah. Ini adalah tempat yang seharusnya menjadi markas, benteng, kantor atau pusat dari segala sesuatu yang kita kerjakan. Di sinilah kita beristirahat setelah beraktivitas seharian. Di sini juga tempat berkumpul bersama keluarga. Sejauh-jauhnya dan lamanya kita pergi, kita akan mengimpikan dan kembali ke rumah. Karenanya seharusnya rumah menjadi tempat yang paling menyenangkan dan membahagiakan. Orang-orang bilang sebagai 'Home Sweet Home' atau 'Istanaku Negaraku'. Dengan tinggal di rumah seperti itu, maka kita akan bisa optimal beraktivitas di luar. Sehingga dapat menciptakan rezeki dan prestasi. Sebaliknya dengan tinggal di rumah yang tidak menyenangkan dan membahagiakan, akan membuat pikiran terbebani. Keluar rumah tidak akan optimal ...

Enerlife [4]: Mengaji untuk Orang Tua

Gambar
(ref: sxc.hu) Syahdan dahulu kala ada seorang pengusaha yang melakukan perjalanan bisnis ke daerah kampung kelahirannya. Dia sudah lama meninggalkan kampung halaman. Yakni sejak kepindahannya ke kota saat mulai masuk bangku sekolah menengah. Sejak itu, dia tidak pulang ke kampung kelahirannya. Hanya 3 kali. Yakni saat mau menikah, dan meninggalnya ayah dan ibunya. Itu pun saat pemakaman bapak dan ibunya, dia sudah terlambat. Karena sudah dimakamkan. Oleh: Mochamad Yusuf * Mulai dini hari dia sudah berkeliling melakukan pembicaraan dengan partner dan klien. Benar-benar hari melelahkan. Siang harinya dia beristirahat sambil menikmati es degan. Baru sadar makam kedua bapak ibunya tidak jauh dari tempat dia minum es degan itu. Terbersit mengunjungi makamnya. Akhirnya dia putuskan menitipkan mobil sewaannya pada penjual es degan, dan dia berjalan ke makam tersebut. Setelah berdoa di depan kedua makam orang tuanya, dia beristirahat sejenak. Makam tampak rindang. Pohon-pohon Kamboja tambak s...

Enerlife [3]: Hati-Hati Memilih Karir

Gambar
(ref: sxc.hu) Seorang teman sejak kecil memiliki cita-cita sebagai diplomat. Namun tidak seperti anak-anak lain yang terus berubah cita-citanya sejalan waktu berlalu, dia tetap konsisten dengan cita-citanya itu. Tidak sekedar angan atau bermimpi, tapi dia memang mempersiapkan dan mengejar cita-cita itu. Oleh: Mochamad Yusuf * Menginjak di sekolah menengah, dia tidak hanya rajin belajar bahasa Inggris, namun bahasa asing lainnya seperti Jerman dan Perancis. Tidak sekedar itu. Dia juga melahap buku-buku sejarah dunia dan perang yang telah melanda dunia. Dia rajin membaca dan mengkoleksi buku-buku. Dia juga rajin berkorespondensi dengan kedutaan asing yang ada di Indonesia. Karenanya, tak heran, dia banyak mendapat kiriman buku, brosur dan lainnya dari mereka. Bahkan ketika menginjak bangku kuliah, dia sering berkunjung ke konsulat-konsulat di Surabaya. Bahkan dia sempat mendapat undangan minum teh sore secara pribadi dengan konsul Amerika Serikat di taman belakang konsulat. Luar biasa. ...

Enerlife [2]: Galau Di Usia 40

Gambar
(ref: internet) Beberapa hari terakhir Andi, katakanlah begitu, merasa hari-harinya tidak nyaman. Ada sebuah kegundahan dan kekhawatiran yang melandanya. Dia merasa di sebuah persimpangan jalan. Bukan di sebuah pertigaan jalan, tapi mungkin perlimaaan, perenaman, pertujuhan dan mungkin lebih banyak lagi. Oleh: Mochamad Yusuf * Dia lama berhenti persimpangan, tidak tahu harus kemana. Padahal waktu semakin tipis yang tersedia sebelum memutuskan sebuah jalan yang dipilih. Beberapa hari lalu dia menginjak usia 40. Kata orang, kehidupan sebenarnya dimulai dari usia 40. Tapi dia merasa malah bingung menatap masa depannya. Sebagai pegawai swasta, dia tidak memiliki pensiun. Di usia ini, tenaganya sudah berkurang. Otaknya tak secermelang lagi. Padahal dia masih harus bersaing dengan karyawan-karyawan baru dengan tenaga dan otak yang masih segar. Pagi ini dia di kantor tak terlalu bersemangat. Dinyalakannya laptopnya. Setelah laptopnya siap, ada notifikasi Facebook yang mengabarkan sahabat kar...

Enerlife (1): Hidup Itu Bagaikan Buku

Gambar
Seorang pelajar menangis tersedu-sedu di sebuah pinggir jalan. Wajahnya mengkilat karena keringat. Rambutnya awut-awutan. Juga bajunya. Bahkan kancing paling atas terlepas. Entah disengaja dilepas atau kancingnya lepas. Tangannya terlihat ada darah.

Kolang-Kaling [5]: Warna Mata Bukan Hitam

Gambar
Kalau ada orang bule, yang saya suka lihat adalah matanya. Yakni warna matanya yang warna-warni. Kalau kita orang Indonesia, kebanyakan warna matanya hanya hitam. Tapi orang bule bisa berwarna biru, hijau, coklat dan mungkin warna-warna lain. Oleh: Mochamad Yusuf * Entah bagaimana rasanya dengan memiliki mata berwarna, apakah juga rasanya sama saat melihat dengan kita yang matanya berwarna hitam. Kalau saya melihat matanya yang berwarna khususnya yang biru gelap, rasanya teduh. Seakan melihat lautan. Hehehe. Saya begitu terkagum-kagum dengan ciptaan Tuhan ini. Bagaimana bisa mata mereka bisa berwarna seperti itu? Di keluarga saya dari pihak Bapak juga memiliki ciri khas pada matanya. Yakni warna matanya coklat. Jadi bukan hitam seperti kebanyakan manusia Indonesia. Coklat tua. Saya ingat-ingat selain Bapak, semua saudara Bapak warna matanya juga coklat. Saya tak tahu, warna mata coklat ini diwarisi dari Bapak atau Ibunya. Kalau Ibunya (nenek), saya tidak pernah melihatnya. Karena dia m...