Postingan

FEATURES

Kolang-Kaling [3]: Perpustakaan: Tempat Yang Dijauhi Saat Tua

Gambar
Delapan hari lalu saat dalam perjalanan dinas dalam kota, saya melewati perpustakaan nasional daerah Jawa Timur di jalan Menur Surabaya. Saat melewatinya saya menoleh cukup lama, sampai teman kantor bertanya, “Ngapain Pak lihat lama?” Saya tersenyum dan menjawab, “saya lama tidak ke sana.” Oleh: Mochamad Yusuf * Eh, ternyata urusannya harus menunggu lama di tempat klien. Daripada menunggu di situ, saya pikir lebih baik menunggu di perpustakaan itu. Apalagi jaraknya tidak jauh. Ya, sekitar 1 km. Sewaktu ke sana, saya 'pangling'. Berubah total. Dari depan sih sama. Tetap. Tapi ketika masuk, banyak perubahan. Yang paling berubah, kartu perpustakaan saya tidak berlaku. Bukan karena habis masa berlakunya, wong memang tidak ada masa berlakunya, tapi sudah berubah konsepnya. Dulu dengan kartu anggota itu, hanya kertas, maka ketika pinjam kartu arsip perpustakaan kita akan ditarik. Saat pinjam, maka dituliskan buku apa saja yang dipinjam dis itu. Nanti kalau dikembalikan, data buku yan...

Kolang-Kaling [2]: Menatap Langit, Mengamati Besarnya Tuhan

Gambar
Dalam sebuah latihan militer yang pernah saya ikuti (bersama Taruna AKABRI), saya mendapat pengalaman yang sungguh mengesankan. Di atas kapal perang yang mengarungi laut Jawa itu, saya bisa mengamati angkasa dengan sempurna. Bisa melihat langit dengan sekelam-kelamnya. Sehingga tampak jelas bintang, planet dan benda-benda langit lainnya. Oleh: Mochamad Yusuf * Hal ini tidak mungkin bisa saya lakukan saat di rumah. Apalagi saya tinggal di perkampungan yang padat. Langit hampir tak pernah terlihat dengan jelas. Lampu-lampu yang menyala terang karena rumah berdekatan, membuat langit tidak tampak hitam sempurna. Bahkan saat di KRI Langsa dalam perjalanan pulang dari Semarang ke Surabaya, kita yang tidur di atas dek bisa langsung melihat langit. Sambil memeluk senjata serbu M16 buatan Amerika, kita berbincang dengan teman sambil sekali-kali membahas bintang dan kumpulannya (rasi). Saat malam hari apalagi sudah larut malam, di kapal perang itu tidak ada suara buatan yang terdengar di telinga...

Kolang-Kaling [2]: Menatap Langit, Mengamati Besarnya Tuhan

Gambar
(ref: internet) Dalam sebuah latihan militer yang pernah saya ikuti (bersama Taruna AKABRI), saya mendapat pengalaman yang sungguh mengesankan. Di atas kapal perang yang mengarungi laut Jawa itu, saya bisa mengamati angkasa dengan sempurna. Bisa melihat langit dengan sekelam-kelamnya. Sehingga tampak jelas bintang, planet dan benda-benda langit lainnya. Oleh: Mochamad Yusuf * Hal ini tidak mungkin bisa saya lakukan saat di rumah. Apalagi saya tinggal di perkampungan yang padat. Langit hampir tak pernah terlihat dengan jelas. Lampu-lampu yang menyala terang karena rumah berdekatan, membuat langit tidak tampak hitam sempurna. Bahkan saat di KRI Langsa dalam perjalanan pulang dari Semarang ke Surabaya, kita yang tidur di atas dek bisa langsung melihat langit. Sambil memeluk senjata serbu M16 buatan Amerika, kita berbincang dengan teman sambil sekali-kali membahas bintang dan kumpulannya (rasi). Saat malam hari apalagi sudah larut malam, di kapal perang itu tidak ada suara buatan yang ter...

Kolang-Kaling [1]: Warna Warni kehidupan

Gambar
Ternyata niat kuat dan disiplin yang tinggi belum cukup untuk memaksa diri menulis. Selain perlu adanya ide, gagasan atau apa yang ingin ditulis, waktu adalah yang paling dibutuhkan. Ini terjadi setelah bulan Ramadhan, saya kering tulisan. Tidak ada tulisan yang muncul. Oleh: Mochamad Yusuf * Kalau dicari alasan sih ada, misal waktu yang tidak ada. Tapi alasan apapun, kenyataannya saya tidak produktif. Lalu saya berpikir keras. Apa yang bisa memaksa saya harus menulis. Menulis apapun dan tidak harus panjang. Tidak harus sepanjang sebuah halaman A4, seperti yang saya inginkan dalam resolusi di awal tahun. Bisa lebih pendek. Mungkin sekitar 1500-2000 karakter. Yang penting ada tulisan yang muncul. Karena itu terpikir untuk membeli tablet. Dengan tablet, maka tak repot untuk langsung mengetik. Pakai komputer, meski netbook sekalipun, masih tidak praktis. Besar, berat, cari tempat yang enak, menyalakan dulu dan lainnya kalau pakai komputer. Dan supaya bisa menulis, maka paling enak tidak d...

Kolang-Kaling [1]: Warna Warni kehidupan

Gambar
(ref: internet) Ternyata niat kuat dan disiplin yang tinggi belum cukup untuk memaksa diri menulis. Selain perlu adanya ide, gagasan atau apa yang ingin ditulis, waktu adalah yang paling dibutuhkan. Ini terjadi setelah bulan Ramadhan, saya kering tulisan. Tidak ada tulisan yang muncul. Oleh: Mochamad Yusuf * Kalau dicari alasan sih ada, misal waktu yang tidak ada. Tapi alasan apapun, kenyataannya saya tidak produktif. Lalu saya berpikir keras. Apa yang bisa memaksa saya harus menulis. Menulis apapun dan tidak harus panjang. Tidak harus sepanjang sebuah halaman A4, seperti yang saya inginkan dalam resolusi di awal tahun. Bisa lebih pendek. Mungkin sekitar 1500-2000 karakter. Yang penting ada tulisan yang muncul. Karena itu terpikir untuk membeli tablet. Dengan tablet, maka tak repot untuk langsung mengetik. Pakai komputer, meski netbook sekalipun, masih tidak praktis. Besar, berat, cari tempat yang enak, menyalakan dulu dan lainnya kalau pakai komputer. Dan supaya bisa menulis, maka pa...

Belajar Dari Kisah Hidup Orang Lain [2]: Antara JK, DI, Habibie dan Soeharto, Mana Yang Dipilih?

Gambar
(ref: wikipedia.org) Secara kebetulan saya menemukan buku-buku biografi yang memang ingin saya baca. Ya, saya memang mengalami dilema. Di satu sisi ingin membaca buku-buku tersebut, tapi saya tidak mau membelinya. Saya merasa rugi membeli buku biografi ini, karena berpikiran hanya sekali baca. Setelah itu disimpan, tak dibaca lagi. Jadi rugi. Ini, mungkin karena dana terbatas saja. Kalau dana berlebih, saya mungkin tidak menggunakan pertimbangan seperti ini. Bagus dan bermanfaat, ya dibeli saja. Karena itu buku-buku yang bersifat koleksi, dibaca sekali dan disimpan, jarang saya beli. Buku biografi dan lainnya adalah buku-buku fiksi, jarang saya beli. Tapi di sisi lain, saya tertarik sekali membacanya karena banyak review yang mengatakan bagus. Apalagi buku itu terkait dengan tokoh-tokoh yang berpengaruh. Sebagian menjadi role model saya. Sebagai profil yang ingin saya tiru dari satu atau lebih beberapa kelebihannya. Buku yang pertama adalah "Mereka Bicara JK". Buku ini saya ...

Belajar Dari Kisah Hidup Orang Lain [1]: Rugi atau Untung Baca Buku Biografi?

Beberapa hari lalu di sebuah toko buku, saya temukan sebuah buku yang ingin saya baca. Buku yang berisi tulisan/cerita orang-orang terkenal tentang mantan wapres Jusuf Kalla. Saya sudah membaca sinopsisnya di sebuah media massa. Namun beberapa kali ke toko buku, tak terlihat. Lha di toko buku malah dijual obral. Lama menimang. Membeli atau tidak ya? Saya buka beberapa halaman, dan sempat membaca beberapa bab. Bagus. Tapi, saya takut saya hanya menjadikan sebagai koleksi saja. Membeli, membacanya sekali dan langsung menyimpannya. Tidak berniat untuk membacanya lagi. Kalau seperti ini, rasanya rugi mengeluarkan uang untuk hal seperti ini. Saya memang tidak biasa membeli buku biografi. Rugi? Tidak sebenarnya. Kalau diukur dari ukuran saya, mungkin rugi. Tapi dari rahasia dan pengalaman yang dishare pasti sangat berguna bagi saya. Karena itu sebenarnya saya suka membaca buku biografi. Tapi memang tidak membeli. Hanya meminjam. Hanya 1 buku biografi yang saya miliki. Itu pun lama setelah sa...

Belajar Dari Kisah Hidup Orang Lain [1]: Rugi atau Untung Baca Buku Biografi?

Gambar
(ref: wikipedia.org) Beberapa hari lalu di sebuah toko buku, saya temukan sebuah buku yang ingin saya baca. Buku yang berisi tulisan/cerita orang-orang terkenal tentang mantan wapres Jusuf Kalla. Saya sudah membaca sinopsisnya di sebuah media massa. Namun beberapa kali ke toko buku, tak terlihat. Lha di toko buku malah dijual obral. Lama menimang. Membeli atau tidak ya? Saya buka beberapa halaman, dan sempat membaca beberapa bab. Bagus. Tapi, saya takut saya hanya menjadikan sebagai koleksi saja. Membeli, membacanya sekali dan langsung menyimpannya. Tidak berniat untuk membacanya lagi. Kalau seperti ini, rasanya rugi mengeluarkan uang untuk hal seperti ini. Saya memang tidak biasa membeli buku biografi. Rugi? Tidak sebenarnya. Kalau diukur dari ukuran saya, mungkin rugi. Tapi dari rahasia dan pengalaman yang dishare pasti sangat berguna bagi saya. Karena itu sebenarnya saya suka membaca buku biografi. Tapi memang tidak membeli. Hanya meminjam. Hanya 1 buku biografi yang saya miliki. I...

Oleh-oleh Lebaran 1433H/2012M (3): Berkunjung ke Masjid Jin

Gambar
Mejeng sejenak di sekitar loket informasi untuk mendaftar masuk ke pondok pesantren salafiyah"Bihaaru Bahri 'Asali Fadlaailir Rahmah, Sananrejo, Turen, Malang. TEMPAT TERKEREN yang pernah saya datangi selama hidup saya! Masjid ini diceritakan tiba-tiba ada. Penduduk sekitar tidak tahu adanya pembangunan masjid itu. Tiba-tiba muncul dan ada. Sehingga katanya yang membangun masjid ini adalah para jin. Oleh: Mochamad Yusuf * Meski berkali-kali berada di Malang Selatan dan ada keinginan, tapi tak kunjung berangkat ke sana juga. Entah, mungkin alasan waktu yang terbatas saja. Jadi saat liburan panjang di hari lebaran lalu, tak saya siakan untuk ke sana. Apalagi ada partner yang mendukung perjalanan ke sana. Kemana sih sebenarnya? Orang-orang menyebutnya masjid tiban, masjid jin dan nama-nama berbau misteri lainnya. Cerita-cerita yang beredar memang menambah misteri dan rahasia bagi tempat ini. Karenanya saya ingin ke sana sejak dulu. Masjid ini diceritakan tiba-tiba ada. Penduduk s...

Oleh-oleh Lebaran 1433H/2012M (2): SCTV Yang Kuingat Unik dan Aneh

Gambar
Zidan sedang mengoperasikan kamera yang digunakan untuk meliput reuni ex-karyawan SCTV. Kunjungan ke kantor SCTV saat reuni lalu membuka beberapa memori dan cerita unik. Hehehe, kadang seperti ada perasaan tidak percaya namun juga kadang berpikir mungkin sudah takdir. Oleh: Mochamad Yusuf * Untuk diketahui dulu, SCTV disiarkan dari Surabaya. Kantornya di Jl Raya Darmo Permai III Surabaya. Jadi kantor pusatnya memang di Surabaya. Dari Surabaya terus dipancarkan ke seluruh nusantara. Sehingga ada beberapa break yang khusus memang disiarkan untuk daerah Surabaya dan sekitarnya, misal: adzan Maghrib. (Kadang aneh saja ya kalau kita lihat TV saat ini. Saya sudah shalat Magrib tapi di TV disiarkan adzan Magrib untuk Jakarta dan sekitarnya. Buat apa untuk kita di Surabaya atau tempat lain ya? Terlalu Jakarta sentris sepertinya.) Kunjungan pertama ke SCTV adalah saat saya kuliah MK Film dan Televisi. Kita melakukan kunjungan ke beberapa media seperti TVRI dan SCTV untuk melihat lebih dekat car...