Postingan

FEATURES

Rahasia Rejeki (83): Rejeki Rumah Kontrakan

Gambar
Ayah sempat menyesal harus berpisah dengan rumah itu, karena terpaksa harus dijual. Dan selalu kalau ada penderitaan datang di rumah baru kita, Ayah selalu membandingkan dengan rumah kita yang lama. Oleh: Mochamad Yusuf * Suatu ketika saya mendapat email dari seorang teman. Teman ini dulunya satu kantor dengan saya, dan sekarang dia berwiraswasta. Setelah bertukar balas lewat beberapa kali email, akhirnya saya tanya di email terakhir tentang rumahnya. Saya tanyakan bagaimana kabar rumah barunya? “Kosong, mas,” katanya. “Lho, apa tidak didiami? Tidak dikontrakkan?” tanya saya. “Tidak. Di sini anak-anak lebih kerasan. Juga dekat dengan Ibu. Dan yang penting, rumah ini ngrejekeni,” jawabnya. Hehehe, saya tersenyum. Ngrejekeni ini istilah Jawa. Artinya banyak mendatangkan rejeki. “Kalau begitu, kenapa tidak sekalian dibeli saja?” “Tidak boleh, mas. Katanya rumah ini buat anak-anaknya kelak. Tapi sudah saya kontrak sampai 10 tahun ke depan.” Bagi saya, tidak ditempati rumah barunya adalah h...

Rahasia Rejeki (83): Rejeki Rumah Kontrakan

Gambar
Ayah sempat menyesal harus berpisah dengan rumah itu, karena terpaksa harus dijual. Dan selalu kalau ada penderitaan datang di rumah baru kita, Ayah selalu membandingkan dengan rumah kita yang lama. Oleh: Mochamad Yusuf * Suatu ketika saya mendapat email dari seorang teman. Teman ini dulunya satu kantor dengan saya, dan sekarang dia berwiraswasta. Setelah bertukar balas lewat beberapa kali email, akhirnya saya tanya di email terakhir tentang rumahnya. Saya tanyakan bagaimana kabar rumah barunya? “Kosong, mas,” katanya. “Lho, apa tidak didiami? Tidak dikontrakkan?” tanya saya. “Tidak. Di sini anak-anak lebih kerasan. Juga dekat dengan Ibu. Dan yang penting, rumah ini ngrejekeni,” jawabnya. Hehehe, saya tersenyum. Ngrejekeni ini istilah Jawa. Artinya banyak mendatangkan rejeki. “Kalau begitu, kenapa tidak sekalian dibeli saja?” “Tidak boleh, mas. Katanya rumah ini buat anak-anaknya kelak. Tapi sudah saya kontrak sampai 10 tahun ke depan.” Bagi saya, tidak ditempati rumah barunya adalah h...

Master of Facebook (11-Tamat): Menjadi Master yang Ulul Albab

Gambar
Betapa banyak sebenarnya orang Indonesia yang jadi pintar lewat kampus dalam dan luar negeri. Mereka meraih master bahkan doktor. Sekarang saatnya tak hanya pintar, namun juga berbudi dan berprestasi! Oleh: Mochamad Yusuf * Dua hari setelah wisuda ada sebuah SMS masuk dari dosen S2 saya, “Selamat menempuh hidup baru menyandang beban akademik dan moral yang lebih besar.” Saya tersenyum dengan sms ini. Ucapannya seakan-akan saya baru saja menikah. Saya balas sms tersebut, “Semoga jadi cerdas, berbudi dan berprestasi. Dan bisa mengharumkan nama almamater.” Ya, saya perlu membalas dengan ucapan ini, karena terngiang-ngiang dengan perkataan Rektor saat acara malam pelepasan alumni. Rektor untuk meminta kita sebagai master yang cerdas, berbudi dan berprestasi. Saat masih di kuliah, kampus mempunyai kewajiban mencerdaskan mahasiswanya melalui perkuliahan, penelitian dan diskusi-diskusi. Kampus juga membantu pembentukan insan berbudi melalui pemahaman etika dan budi pekerti. Namun diharapkan s...

Master of Facebook (10): Perbedaan Saat Wisuda S1 dan S2

Gambar
Saat wisuda S1 dulu, saya masuk ruangan dengan tenang. Tak ada pikiran. Bahkan saya tak berpikir tentang adik yang tak bisa masuk. Kalau saat wisuda S2 ini, saya masuk gedung dengan beberapa pikiran. Oleh: Mochamad Yusuf * Bila saat kuliah, anak sering menjadi perhatian, maka saat wisuda demikian juga. Seperti yang dikatakan wakil wisudawan saat malam pelepasan alumni, bahwa saat dia mau kuliah sering harus berhenti sebentar karena tiba-tiba anak-anak menangis. Menangis karena mau ikut atau tak boleh pergi. Tentu saja perhatian ini mempengaruhi kegiatan kuliah. Lha kalau wisuda? Dulu saat wisuda S1, saya masuk ke ruangan dengan tenang. Tak ada pikiran. Bahkan saya tak berpikir bagaimana kabar 2 adik dan teman saya yang tak kebagian undangan masuk. Memang mereka tak saya belikan undangan. Karena jatah 2 undangan dipakai oleh Bapak dan Ibu. Pikiran saya, di luar ruangan pasti banyak orang yang tak bisa masuk juga sehingga banyak hal yang bisa dilakukan. Entah ini benar atau tidak. Kalau ...

Master of Facebook (9): Tangisan Saat Wisuda

Gambar
Namun saya malah tak menemukan peristiwa ini saat wisuda S1 dulu. Padahal wisudawan S2 yang menangis tak hanya Bapak itu, tapi saya juga melihat pada seorang Ibu. Dia menunduk terus menahan tangis. Oleh: Mochamad Yusuf * Saat wisuda, terdengar isak tangis dari deretan bangku wisudawan. Istri dan Zidan, anak saya, yang duduk di deretan bangku undangan mencari-cari siapa gerangan yang menangis itu. Ternyata seorang Bapak menundukkan kepalanya, terus terisak-isak selama acara wisuda. Bapak ini kemungkinan adalah guru, karena dia menempuh magister pendidikan. Dan kebanyakan memang sudah tua. Saya jarang menemukan mahasiswa pasca pendidikan yang muda. Muda artinya umurnya di bawah 30 tahun, dan untuk tua sebaliknya. Mungkin kebetulan, saya tak bertemu. Agak aneh juga peristiwa ini. Mengapa Bapak itu menangis? Apakah dia begitu bersyukur karena akhirnya dia mencapai gelar master? Atau tak ada keluarga yang mendampinginya? Atau orang tua atau seseorang yang telah mendukung dan mendorongnya pe...

Master of Facebook (8): Kapan Kuliahnya Kok Tiba-Tiba Diwisuda?

Gambar
Yang jadi masalah adalah tidak pernah kuliah, entah dimanapun kelasnya, tiba-tiba diwisuda. Ini yang luar biasa. Seperti esoknya setelah saya diwisuda, saya mendapat telpon dari seorang teman. Oleh: Mochamad Yusuf * Ketika seorang teman tahu saya diwisuda S2 di sebuah hotel, dia mengkonfirmasi nama hotelnya. Dia tak yakin, apakah hotel yang dimaksud sama dengan hotel yang jadi tempat wisuda saya. “Ada apa?” tanya saya. “Seorang saudara mengundang saya ke hotel itu untuk mengikuti wisudanya. Cuma, saya heran. Kapan kuliahnya, kok tiba-tiba sudah diwisuda?” tanyanya. Hehehe. Ini pertanyaan yang hampir sama diajukan oleh teman saya, seorang komandan di sebuah Polres di Surabaya, saat memberikan sambutan di malam pelepasan wisudawan. Katanya, melihat banyaknya yang diwisuda malam itu, seharusnya kampus lebih ramai lagi daripada biasanya. Sebenarnya jawaban dari pertanyaan teman saya ini cukup mudah. Mereka tidak kuliah di kampus yang biasa kita datangi. Mereka kuliah di tempat daerahnya m...

Master of Facebook (7): Teman Kuliah Warga Negara Asing

Gambar
Rasanya bangga mendengar perjuangannya untuk kuliah di Indonesia. Dia percaya kualitas pendidikan kita lebih bagus. Tapi kini saya prihatin, karena sekarang banyak pelajar kita kuliah di Malaysia. Oleh: Mochamad Yusuf * Dua kali kuliah, 2 kali pula saya mendapat teman sekelas dari luar negeri. Mungkin ada yang mencibir, “Saya sih biasa. Banyak teman saya sekelas juga dari luar negeri. Bahkan dari berbagai negara.” Ya, ini kemungkinan besar dia kuliah juga di luar negeri. Hehehe. Dulu saat kuliah S1, aneh juga rasanya ada seorang pelajar negara lain mau belajar di Indonesia. Dan bukannya kuliah di Jakarta, tapi malah ambil kuliah di Surabaya. Sebuah kota bukan ibukota negara. Kini, hal itu makin terasa aneh lagi, karena justru banyak pelajar dari negara kita yang kuliah di negara jiran seperti Singapura bahkan Malaysia! Entah, apakah mereka seperti pelajar Malaysia tersebut masih mau belajar di Indonesia lagi saat ini atau tidak. Lho, kenapa dengan Malaysia? Betul, teman sekelas waktu ...

Master of Facebook (6): Kuliah Dengan Otak Penuh Beban

Gambar
Jadi di malam pelepasan wisuda itu, saat teman saya curhat dengan berbagai hambatan saat kuliah dalam sambutannya, saya tertawa-tawa sendiri. Tertawa karena mentertawakan diri sendiri. Hehehe. Oleh: Mochamad Yusuf * Dalam sambutannya, seorang teman sekelas yang didapuk menjadi wakil wisudawan malam itu, mengeluh betapa susahnya kuliah saat sudah tua seperti sekarang ini. Secara guyon, dia mengatakan saat mau berangkat kuliah diberati dengan tangisan anak, sehingga tidak jadi kuliah. Meski saya kurang percaya dengan ceritanya, maklum dia adalah komandan sebuah polres di Surabaya sehingga saya yakin keluarganya biasa ditinggal dinas di luar rumah, saya menyetujui pendapatnya. Yakni kuliah setelah berkeluarga terasa lebih berat. Keberatan pertama adalah kuliah bukanlah prioritas pertama dalam menyedot sumber daya yang kita miliki. Yang utama adalah pekerjaan. Sehingga segala pikiran, tenaga dan waktu digunakan sepenuhnya untuk pekerjaan. Dan pekerjaan tidak banyak terkait dengan belajar,...

Master of Facebook (5): Mengapa Tak Kuliah di UNAIR?

Gambar
Ketika ditanya waktu kuliah oleh atasan, saya jawab apa adanya. Lama dia berpikir. Sepertinya mencari kalimat yang pas. Akhirnya dimulailah perbincangan panjang. Saya tahu maksud pembicaraan ini. Oleh: Mochamad Yusuf * Ketika keputusan kuliah S2 sudah bulat, maka saya tak perlu pikir panjang lagi untuk memilih perguruan tingginya: UNAIR! Jelas alasannya. Nama besar, PTN favorit dan alumni. Alumninya telah tersebar di seluruh Indonesia bahkan dunia dan telah berkiprah di berbagai institusi pemerintah, BUMN dan swasta ternama. Selain itu memang pilihannya cuma sedikit, karena saya hanya berniat mengambil bidang komunikasi. Ini saya maksudkan supaya S2 saya linier dengan S1 saya yang komunikasi. Di Surabaya hanya ada 2 perguruan tinggi (PT) yang buka S2 Komunikasi: UNAIR dan UNITOMO. Mudah bagi saya untuk cari informasi tentang pasca Komunikasi UNAIR ini. Karena Komunikasi UNAIR adalah almamater saya. Saya kontak dosen-dosen yang telah mengajari saya di strata 1 itu. Semuanya welcome. Me...

Master of Facebook (4): Bagaimana Kuliah Lagi Tanpa Mengganggu Perekonomian Keluarga?

Gambar
Waktu saya utarakan ke istri, dia bertanya biayanya. Tentu saja saya katakan biaya diambil dari anggaran rumah tangga. Dari mana lagi? Aneh pertanyaan ini. Dia diam sejenak. Dan menolak. Tidak! Oleh: Mochamad Yusuf * Sebenarnya sejak lama saya memendam keinginan kuliah lagi. Mungkin sekitar tahun 2005-an. Waktu itu entah kenapa, tiba-tiba terbersit keinginan kuliah lagi. Mungkin karena melihat beberapa teman dan adik kelas yang kuliah lagi. Saya ingin ambil S2 Komunikasi. Ilmu yang masih linier dengan S1 saya. Waktu saya utarakan ke istri, dia bertanya biayanya. Tentu saja saya katakan biaya diambil dari anggaran rumah tangga. Dari mana lagi? Aneh sekali pertanyaannya. Bukankah saat berumah tangga anggaran jadi satu? Betul, istri juga bekerja. Dia diam sejenak. Dan menolak. Tidak! Saya berargumen. Dan dia berargumen yang lebih masuk akal. Bahwa masih ada biaya besar yang dibutuhkan untuk menyicil rumah, biaya pendaftaran sekolahnya Zidan yang tahun depan masuk SD dan lain-lainnya. Ten...