Postingan

FEATURES

Rahasia Rejeki (46): Yang Kaya Makin Kaya, Yang Miskin Makin Miskin?

Gambar
Bila mereka diadu, tentu saja ini seperti berlomba dengan start yang tak sama. Mereka yang kaya akan start beberapa jarak di depan yang miskin. Diadu apapun yang di depan ini kemungkinan besar menang. Oleh: Mochamad Yusuf * Dulu waktu ujian skripsi saya pernah memberikan kritik ke dosen penguji. Bahwa PTN (perguruan tinggi negeri) tidak adil dalam menyaring calon mahasiswanya. Lho kok bisa? Bukankah semua harus mengikuti ujian yang sama? Bahkan soalnya juga sama? Padahal PTN adalah salah satu jalan ampuh untuk sukses. Apalagi saat dulu dimana sarjana tak begitu banyak. Lulusannya begitu mudah mencari pekerjaan. Apalagi bagi lulusan PTN favorit seperti UI, ITB, UGM, Unair dan lain-lain. Mereka begitu mudah masuk jadi PNS, dan nanti kelak bisa menjadi pejabat. Atau masuk ke BUMN sehingga menjadi direktur. Atau menjadi dokter, sehingga mudah mendapatkan uang dari praktek di rumahnya. Padahal mereka juga kerja sebagai PNS atau RSUD/Puskesmas. Ironisnya biaya kuliahnya juga murah. Bahkan ta...

Rahasia Rejeki (45): Rejeki Kemampuan Belajar Otodidak

Gambar
Artinya saya disuruh belajar sendiri. Ha? Saya tertegun. Belajar sendiri untuk matematika atau ilmu lain tak masalah. Tak ada resikonya. Tapi kalau belajar mengemudi? Resikonya bisa kecelakaan. Oleh: Mochamad Yusuf * Saya punya pengalaman unik. Pada umur 28 tahun akhirnya saya putuskan belajar mengemudi mobil. Posisi umur yang mungkin agak terlambat untuk belajar mengemudi. Ya, sebenarnya sejak dulu, khususnya sejak SMA, ingin belajar mengemudi. Apalagi sebenarnya Bapak memiliki mobil, meski mobil angkutan umum. Namun dilarang Ayah. Baru menyalakan mesin, bila ketahuan Ayah akan marah. Saya tak tahu alasan persisnya. Lalu kenapa pada umur 28 tahun itu saya putuskan belajar mengemudi? Karena saya sudah hidup mandiri. Sejak menikah saya putuskan tidak tinggal bersama keluarga lagi. Alasan lain saya sudah punya cukup waktu. Saat itu saya mengundurkan diri dari pekerjaan tapi belum dapat kantor baru. Lainnya, tapi ini yang penting, adik kebetulan memiliki mobil. Sehingga bisa digunakan bel...

Rahasia Rejeki (44): Hanya Bersalam Rejeki Lancar

Gambar
Setelah pintunya terbuka, sebelum melangkah masuk dia berucap salam, “Assalammualaikum.” Saya heran melihat dia melakukan ini, bukankah sudah jelas rumahnya kosong. Mengapa harus mengucap salam? Oleh: Mochamad Yusuf * Suatu ketika saya berniat silaturahmi ke teman kuliah. Hal itu sudah saya utarakan pada teman tersebut sebelumnya. Rencananya setelah selesai kuliah, kita langsung menuju ke rumah teman tersebut. Ya, saya mempunyai keinginan untuk lebih menjalin silaturahmi dengan teman-teman. Yakni dengan cara diantaranya berkunjung ke rumah. Di sana bila sudah minum airnya, berarti sudah sampai ke sana. Setelah selesai kuliah, kita berangkat ke rumahnya. Karena tadi berangkatnya ke kampus bawa kendaraan masing-masing, maka perginya ke rumah teman beriring-iringan. Sesampai di sana, rumahnya terlihat gelap. Hanya lampu di jalan dan halaman depan saja yang menyala. Sepertinya tidak ada orang. Teman membuka sendiri pintu gerbang dan memasukkan mobilnya ke garasi. Saat teman melakukan hal i...

Rahasia Rejeki (43): Cepat Paham Cepat Sukses

Gambar
Tentu saja ini sebuah rejeki. Saya kenal teman yang memiliki anugerah seperti ini. Memahami sesuatu pengetahuan atau ilmu tak perlu waktu lama. Padahal yang lain bisa lebih lama 2-3 kali lipat. Oleh: Mochamad Yusuf * Tetangga saya bangga dengan prestasi anaknya. Sesuatu hal yang wajar bagi orang tua. Anaknya ranking I di kelasnya. Saya jadi penasaran, karena anak saya belajar di sekolah yang sama, meski beda kelas. Saya ingin tahu apa resepnya sehingga bisa berhasil. Siapa tahu bisa ditiru. “Ah, sama saja Pak dengan anak yang lain,” katanya merendah ketika saya tanya rahasianya. “Bahkan sebenarnya dia baru belajar, kalau kita suruh. Kalau nggak begitu dia tak mau belajar. Karena itu saya dan istri sering harus marah-marah dulu sebelum dia belajar.” Dalam hati saya berkata, ternyata sama dengan anak saya. Atau mungkin juga dengan anak-anak lain. Lalu kenapa dia bisa pintar begitu? Nilainya rata-rata bagus, hampir sempurna. Dan dia sering dikirim ke lomba-lomba mewakili sekolah. “Berapa ...

Rahasia Rejeki (42): Antara Tukang Becak Depan RSI Surabaya

Gambar
Tukang becak berlarian itu dalam rangka menjemput penumpang. Mereka berharap dengan menawarkan bahkan sebelum penumpang turun dari kendaraan, maka harapannya dia bisa mendapat penumpang duluan. Oleh: Mochamad Yusuf * Bila anda dari selatan Surabaya ke arah kota lewat jalan Ahmad Yani, pasti akan melihat peristiwa menarik. Namun anda harus lewat bawah, tidak naik jembatan tol Wonokromo. Peristiwa ini di depan RSI (Rumah Sakit Islam). Sesaat sebelum RSI biasanya pengendara akan mengurangi kemacetan. Kebanyakan karena memang macet. Di situ juga ada perlintasan kereta api. Jadi memang harus mengurangi kecepatan, supaya bisa lancar melintasi rel. Di dekat perlintasan kereta api itu, di sebelah kiri tampak orang-orang berdiri. Kebanyakan memakai topi, caping dan menutupi wajahnya. Mata mereka sepertinya mencari-cari sesuatu di keramaian kendaraan. Bila ada yang dicari, mereka akan berlarian mengejarnya. Kadang berebut dengan orang lain. Lalu mereka bergelantung di pintu kendaraan, dan menewa...

Rahasia Rejeki (41): Kenikmatan Merasakan Rejeki

Gambar
Setelah berpenghasilan, saya masih menyempatkan beberapa kali ke sana, meski sudah bukan di jalan Gubeng Pojok lagi, karena sudah digusur. Rasanya masih nikmat, namun tak senikmat waktu kecil dulu. Oleh: Mochamad Yusuf * Dulu di depan sekolah SMA ada penjual bakso. Yang saya suka dari bakso ini adalah gorengannya. Sangat khas. Tidak seperti tepung tipis pembungkus isi yang digoreng. Bukan seperti pangsit goreng. Tapi seperti lentonya lontong balap. Cuma bahannya tepung yang berisi sayur. Bentuknya bulat. Sayang sebagai anak keluarga miskin, tidak setiap saya bawa uang saku. Bila ada uang, biasanya setelah saya dapat honorarium menulis di koran maka saya sempatkan untuk beli bakso. Tidak banyak. Bila 1 porsi biasanya 250 perak, saya biasanya beli cuma 150 perak. Supaya terjangkau dengan harga ini, maka bakso saya tidak ada pentol. Namun saya merasakan nikmatnya bakso ini. Sayangnya saya tidak bisa menikmati setiap hari, karena tidak punya uang saku itu. Setelah memiliki uang sendiri wak...

Rahasia Rejeki (40): Rahasia Rejeki Yang Terlupakan

Gambar
Saya tercenung dengan hal ini. Sebuah rahasia rejeki yang mudah. Namun terlalu sederhananya sering kita mengabaikannya. Malah sering kali kita menolaknya. Jangan sampai kita seperti Malin Kundang. Oleh: Mochamad Yusuf * Suatu waktu saya berkunjung ke seorang teman yang baru saya kenal. Dia seorang pengusaha percetakan. Namun juga memiliki beberapa bisnis kecil-kecilan, seperti warung bakso, dan kedai-kedai franchise di depan toko serba ada modern yang sekarang ramai bertebaran. Saya lihat ada 2 mobil yang bertengger di garasinya. Satu mini MPV baru yang banyak dipakai banyak orang. Lalu ada sedan yang agak lama. Rumahnya bagus bertingkat. Melihat perabot di dalamnya, saya tebak memang dia sudah sukses. Dia dulu sebenarnya bukan pengusaha. Karyawan juga, ikut orang. Sejak lulus kuliah, dia bekerja berganti-ganti perusahaan. Tapi dari itu semua ada kesamaan: dia menjadi sales. Bahkan di beberapa perusahaan dia bekerja sebagai sales canvasser. Sales yang membawa mobil mengangkut produk. B...

Rahasia Rejeki (39): Penderitaan Mendatangkan Rejeki

Gambar
Dia berpikir kenapa bosnya seperti mempersusah dirinya. Membuat banyak hal yang dia harus bekerja terus menerus. Dia membandingkan dengan yang lain, bahkan dengan ‘adik kelas’nya. Mereka lebih enak. Oleh: Mochamad Yusuf * Andre katakanlah begitu, sudah putus asa. Dia merasa dimanfaatkan oleh bosnya. Dia diberi banyak pekerjaan tak masuk akal, dan dituntut harus diselesaikan. Selain itu dia banyak ditugaskan ke berbagai daerah untuk mengunjungi berbagai pabrik dan partner. Dan yang paling menjengkelkan baginya, dialah yang paling sering dirotasi di perusahaan itu. Dan seringnya dia dipindah ke departemen atau bagian yang bermasalah. Bila dia sudah berhasil menyelesaikan, dia dipindah lagi ke departemen/bagian lain. Atau dipindah ke departemen/bagian yang baru dibentuk. Bila dia sudah membuat pondasi kokoh dan berjalan lancar, dia dipindah. Bahkan dia kerap diminta untuk mensetup bagian/departemen/perusahaan yang baru dibentuk. Karenanya dia harus benyak belajar, beradaptasi dengan orang...

Rahasia Rejeki (38): Lokasi Menentukan Prestasi?

Gambar
Ironisnya di lokasi lama yang terbakar itu dibangun restoran pangsit lagi, tetap sepi. Memang yang membuka bukan pemilik lama. Tapi jargon lokasi menentukan prestasi, ternyata tak terbukti di sini. Oleh: Mochamad Yusuf * Orang menganggap bila ingin berdagang sukses maka lokasi akan menentukan. Posisi strategis sangat penting untuk mendapatkan pelanggan khususnya untuk toko dan warung. Karena itu banyak orang yang mau membeli sebuah posisi strategis dengan harga mahal. Semakin strategis, semakin mahal. Misal dalam sebuah kompleks ruko, maka toko yang posisinya di depan, relatif lebih mahal dibanding yang di belakang. Logikanya pembeli akan lebih banyak membeli di toko yang depan. Mereka malas kalau harus pergi lebih jauh, apalagi kalau harus jalan kaki. Lainnya adalah di tepi jalan. Semakin ramai jalannya, semakin mahal pula lokasi tersebut. Karena jalan yang ramai tentu saja semakin banyak orang yang lalu lalang. Berarti ini semakin besar peluang orang membeli di toko itu. Di Jakarta a...

Rahasia Rejeki (37): Rahasia Rejeki Di Balik Bocor 9 Lubang

Gambar
Jadi tambah jengkel, setelah ditambal diperiksa ada lubang lain. Mungkin ketika paku yang menancap setelah dituntun lama, paku ini melubangi lokasi yang lain. Total ada 9 lubang. Dongkol sekali. Oleh: Mochamad Yusuf * Kadang Tuhan membuat sebuah rencana baik untuk kita melalui sebuah jalan yang tak terduga. Bahkan jalan itu sering malah menyusahkan kita dulu. Atau kadang Tuhan memberi petunjuk kita melalui orang lain yang bertemunya tak kita sangka dan inginkan. Suatu malam yang larut dalam perjalanan pulang dari rumah teman, ban sepeda motor saya bocor. Saya hentikan sepeda motornya, dan mencari-cari dimana kira-kira ada tukang tambal ban. Aduh, lokasinya jauh dari pemukiman. Berhenti di jalan yang masih banyak tanah kosong. Saya menuntun sampai ke jalan besar. Berhenti. Bingung harus ke kanan atau ke kiri. Dan tak ada orang yang saya bisa tanyai. Di depan ada sungai, namun ada jembatan darurat yang biasa dipakai melintas pejalan kaki. Saya lihat sepintas, jalan di seberang suangai le...