Postingan

FEATURES

Rahasia Rejeki (21): Rejeki Remeh, Tapi Tetap Rejeki Kan?

Gambar
Akhirnya saya sampai tujuan. Tepat waktu bahkan bisa dikatakan lebih awal dari jadwal semestinya. Saya geleng-geleng saja. Bagaimana ini bisa terjadi? Oleh: Mochamad Yusuf * Sebuah telpon masuk ke sebuah radio. "Halo! Assalammuailakum," sebuah suara menyahut dari seberang sana. "Wallaikumsalam, siapa ini?" penyiarnya menjawab. Sebuah nama disebut dari ujung telpon. "Saya melaporkan dari bundaran Waru ke kota, lancar. Saya tak tahu mengapa kok bisa lancar. Biasanya jam-jam segini padat merambat. Mungkin rejeki saya. Hahaha." kata suara di seberang sana melaporkan keadaan lalu lintas. "Masak Pak? Wah, kalau begitu memang itu rejeki Bapak," penyiarnya menimpali sambil ikut tertawa. Saya yang mendengarkan radio sambil lalu juga ikut tersenyum mendengarkan percakapan ini. Tiba-tiba saya tertarik dengan percakapan ini. Rejeki. Benarkah itu rejeki? Dalam film-film spionase sering untuk melancarkan sebuah misi, ada anggota tim yang bertugas ‘menghack’ ja...

Rahasia Rejeki (20): Rejeki Yang Harus Memutar Dahulu

Gambar
Pulanglah saya ke Surabaya. Jadi selama safari penjualan ke seluruh Jawa Timur tak ada hasil. Perjalanan yang menempuh ribuan kilometer, beberapa minggu dan telah memeras tenaga hasilnya nol besar. Oleh: Mochamad Yusuf * Empat tahun lalu saya membawahi departemen software development (softdev). Sebelumnya saya di departemen website development (webdev). Kalau di departemen webdev saya bertanggung jawab membuat website, maka di departemen ini saya membuat sofware. Meski begitu tetap sama rohnya, yakni semuanya berbasis web dan server-client. Bila di departemen webdev saya tak kebingungan masalah order, di departemen softdev jarang ada order. Karena mungkin masyarakat masih belum kenal web based application ini. mungkin masih terlalu maju bagi jaman itu. Entah kalau sekarang. Karena masih familiar dengan sistem aplikasi office yang biasanya dibuat menggunakan Delphi atau VB. Tapi saya tak menyerah. Saya tak menunggu order. Tapi saya menjemput order. Rencananya saya membuat sistem yang s...

Rahasia Rejeki (20): Rejeki Yang Harus Memutar Dahulu

Gambar
Pulanglah saya ke Surabaya. Jadi selama safari penjualan ke seluruh Jawa Timur tak ada hasil. Perjalanan yang menempuh ribuan kilometer, beberapa minggu dan telah memeras tenaga hasilnya nol besar. Oleh: Mochamad Yusuf * Empat tahun lalu saya membawahi departemen software development (softdev). Sebelumnya saya di departemen website development (webdev). Kalau di departemen webdev saya bertanggung jawab membuat website, maka di departemen ini saya membuat sofware. Meski begitu tetap sama rohnya, yakni semuanya berbasis web dan server-client. Bila di departemen webdev saya tak kebingungan masalah order, di departemen softdev jarang ada order. Karena mungkin masyarakat masih belum kenal web based application ini. mungkin masih terlalu maju bagi jaman itu. Entah kalau sekarang. Karena masih familiar dengan sistem aplikasi office yang biasanya dibuat menggunakan Delphi atau VB. Tapi saya tak menyerah. Saya tak menunggu order. Tapi saya menjemput order. Rencananya saya membuat sistem yang s...

Rahasia Rejeki (19): Partner Yang Tepat

Gambar
Memang salah satu selalu lebih menonjol. Karena memang sifatnya demikian. Ketika salah satu meninggalkan yang lain, kesuksesan itu juga mulai meninggalkan mereka. Oleh: Mochamad Yusuf * Apa sebenarnya yang membuat seseorang sukses? Apakah karena kerja kerasnya? Keuletannya? Kegigihannya? Kecerdasan dan kecerdikan? Pantang mundur? Atau lain-lain yang sering disebut dalam buku dan seminar motivasi? Ya, hal itu memang sangat mempengaruhi. Namun ada faktor lain, yakni partner yang tepat. Contoh paling jelas adalah pendiri negara kita: Soekarno – Hatta. Soekarno adalah pemuda yang cerdas dan memiliki cita-cita luar biasa terhadap negaranya: merdeka! Saat mengalami penjajahan ratusan tahun, tentu saja merdeka adalah mimpi di siang bolong. Sesuatu yang tak mungkin. Sejak sekolah menengah di Surabaya dia mulai berusaha mewujudkan impian itu. Di Surabayalah semakin tertempa, karena mendapat bimbingan langsung dari tokoh pergerakan terkemuka: HOS Tjokroaminoto. Namun pertemuannya dengan tokoh pe...

Rahasia Rejeki (19): Partner Yang Tepat

Gambar
Memang salah satu selalu lebih menonjol. Karena memang sifatnya demikian. Ketika salah satu meninggalkan yang lain, kesuksesan itu juga mulai meninggalkan mereka. Oleh: Mochamad Yusuf * Apa sebenarnya yang membuat seseorang sukses? Apakah karena kerja kerasnya? Keuletannya? Kegigihannya? Kecerdasan dan kecerdikan? Pantang mundur? Atau lain-lain yang sering disebut dalam buku dan seminar motivasi? Ya, hal itu memang sangat mempengaruhi. Namun ada faktor lain, yakni partner yang tepat. Contoh paling jelas adalah pendiri negara kita: Soekarno – Hatta. Soekarno adalah pemuda yang cerdas dan memiliki cita-cita luar biasa terhadap negaranya: merdeka! Saat mengalami penjajahan ratusan tahun, tentu saja merdeka adalah mimpi di siang bolong. Sesuatu yang tak mungkin. Sejak sekolah menengah di Surabaya dia mulai berusaha mewujudkan impian itu. Di Surabayalah semakin tertempa, karena mendapat bimbingan langsung dari tokoh pergerakan terkemuka: HOS Tjokroaminoto. Namun pertemuannya dengan tokoh pe...

Rahasia Rejeki (18): Kisah Matinya Surabaya Post

Gambar
Meski Surabaya Post bangkrut, sebenarnya harian ini masih ada di hati masyarakat Surabaya. Jadi kalau tetap dihidupkan sebenarnya masih bisa dijadikan periuk rejeki. Cukuplah, meski tak berlebih. Oleh: Mochamad Yusuf * Warga Surabaya khususnya yang berusia dewasa sudah pasti tahu harian Surabaya Post. Sebelum Jawa Pos terkenal seperti hari ini, Surabaya Postlah yang lebih banyak dibaca. Masa-masa keemasan ini sekitar tahun 1970-an dan 1980-an. Dan masih bertahan kejayaannya sampai awal 1990-an. Saya sendiri mempunyai ikatan batin dengan harian ini, yakni waktu saya masih duduk di bangku SMA. Sewaktu di SMA ini tulisan reportase saya banyak dimuat di Surabaya Post. Karenanya saya lalu aktif di organisasi reporter muda yang dikelola oleh Surabaya Post. Nama perkumpulan ini adalah Kronik Pelajar. Kelak meski saya sudah lulus SMA, saya masih menulis untuk Surabaya Post. Tapi sudah bukan reportase atau artikel, namun sudah opini. Dan dimuat di halaman opini yang biasanya memuat tulisan para...

Rahasia Rejeki (18): Kisah Matinya Surabaya Post

Gambar
Meski Surabaya Post bangkrut, sebenarnya harian ini masih ada di hati masyarakat Surabaya. Jadi kalau tetap dihidupkan sebenarnya masih bisa dijadikan periuk rejeki. Cukuplah, meski tak berlebih. Oleh: Mochamad Yusuf * Warga Surabaya khususnya yang berusia dewasa sudah pasti tahu harian Surabaya Post. Sebelum Jawa Pos terkenal seperti hari ini, Surabaya Postlah yang lebih banyak dibaca. Masa-masa keemasan ini sekitar tahun 1970-an dan 1980-an. Dan masih bertahan kejayaannya sampai awal 1990-an. Saya sendiri mempunyai ikatan batin dengan harian ini, yakni waktu saya masih duduk di bangku SMA. Sewaktu di SMA ini tulisan reportase saya banyak dimuat di Surabaya Post. Karenanya saya lalu aktif di organisasi reporter muda yang dikelola oleh Surabaya Post. Nama perkumpulan ini adalah Kronik Pelajar. Kelak meski saya sudah lulus SMA, saya masih menulis untuk Surabaya Post. Tapi sudah bukan reportase atau artikel, namun sudah opini. Dan dimuat di halaman opini yang biasanya memuat tulisan para...

Rahasia Rejeki (17): Ibu Yang MalangRahasia Rejeki (17): Ibu Yang Malang

Gambar
Saya tak bisa membayangkan bagaimana perasaan wanita itu. Anak kandungnya yang telah dilahirkan, dibesarkan sampai tega melakukan hal ini. Apakah anaknya menginginkan ibunya meninggal saja? Dan langsung hilang bagaikan sampah di tumpukan sampah yang menggunung itu? Oleh: Mochamad Yusuf * Wanita tua itu berteriak-teriak minta tolong. Tak ada yang mendengar. Karena siang itu begitu hiruk. Maklum ini sebuah terminal. Tapi dia tetap minta tolong, karena dia sudah tak tahan dengan sinar matahari. Kulitnya sudah mulai melepuh. Dia berteriak-teriak terus, sampai akhirnya suara serak. Dan lama-kelamaan mulai habis. Air matanya sudah kering. Sudah tak bisa lagi menangis. Namun sekarang dia tak berteriak saja, tapi juga berdoa. Dia berteriak pada Tuhan. Doanya sepertinya didengar. Dua tukang becak mendengar. Meski awalnya aneh, seperti ada suara minta tolong, tapi mana mungkin sumber suaranya itu dari tempat sampah. Ya, benar tempat sampah. [TSA, 0/11/2010 subuh] ~~~ <em>Saya membaca beri...

Rahasia Rejeki (17): Ibu Yang Malang

Gambar
Saya tak bisa membayangkan bagaimana perasaan wanita itu. Anak kandungnya yang telah dilahirkan, dibesarkan sampai tega melakukan hal ini. Apakah anaknya menginginkan ibunya meninggal saja? Dan langsung hilang bagaikan sampah di tumpukan sampah yang menggunung itu? Oleh: Mochamad Yusuf * Wanita tua itu berteriak-teriak minta tolong. Tak ada yang mendengar. Karena siang itu begitu hiruk. Maklum ini sebuah terminal. Tapi dia tetap minta tolong, karena dia sudah tak tahan dengan sinar matahari. Kulitnya sudah mulai melepuh. Dia berteriak-teriak terus, sampai akhirnya suara serak. Dan lama-kelamaan mulai habis. Air matanya sudah kering. Sudah tak bisa lagi menangis. Namun sekarang dia tak berteriak saja, tapi juga berdoa. Dia berteriak pada Tuhan. Doanya sepertinya didengar. Dua tukang becak mendengar. Meski awalnya aneh, seperti ada suara minta tolong, tapi mana mungkin sumber suaranya itu dari tempat sampah. Ya, benar tempat sampah. [TSA, 0/11/2010 subuh] ~~~ Saya membaca berita ini di ...

Rahasia Rejeki (16): Sekolah Sebagai Rejeki Yang Lain

Gambar
Kadang saya bertanya-tanya mengapa hal ini bisa terjadi. Karena banyak orang yang tak cerdas, tak memiliki keinginan sekolah dan malas sekolah, tapi tetap bisa bersekolah dan kelak jadi pimpinan. Oleh: Mochamad Yusuf * Saat keluar dari masjid jumat kemarin, saya terkejut disapa teman lama. Saat konsentrasi bagaimana mengeluarkan motor yang terjepit di parkiran yang rapat, tiba-tiba teman ini di depan saya. Saya sungguh senang melihatnya kembali. Maklum sejak pindah rumah karena berkeluarga, saya jarang melihatnya. Sebenarnya dia adalah tetangga, karena umurnya lebih tua dari saya. Waktu saya masih SD dia mungkin sudah duduk di SMP. Kita tinggal di kampung yang penduduknya berpendapatan menengah ke bawah. Kebanyakan bekerja di sektor informal: sopir, penjual makanan, pedagang kecil dan sebagainya. Kalaupun ada yang pegawai, tingkatannya mungkin juga rendah. Jadi kebanyakan tak terlalu kaya. Maka tak heran kalau selepas SMA rata-rata sudah bekerja. Bahkan ada yang hanya lulus SMP. Salah ...